RSS

3 Wasiat Sesepuh Jawa Timur

21 Agu

Wawancara penulis dengan mantan Gubernur Jatim M. Nur (alm) 

Rencana pembangunan Jembatan Surabaya – Madura (Suramadu) berawal dari gagasan Prof Sediyatmoko pada tahun 1960 yang ingin menghubungkan Jawa-Sumatra-Bali dengan nama Proyek Tri Nusa Bima Sakti. Karena kondisi, proyek ini mengalami pasang surut. Baru pada awal tahun 1990-an, proyek mercu suar ini difokuskan pada jalur penghubung Jawa-Madura. Salah satu pelopor di era ini adalah tokoh yang dikenal sebagai sesepuh masyarakat Jawa Timur Raden Panji Moehammad Nur yang menjabat sebagai gubernur pada tahun 1967-1976.

Bisa diceritakan sedikit tentang sejarah Jembatan Suramadu ?

Jadi begini. Dulu, ada gagasan dari Pak Habibie (ketika masih menjabat sebagai Menristek, Red) untuk membuat jalur penghubung antara Jawa-Sumatera, Jawa-Bali dan Jawa-Madura. Tiga hal ini yang akan dilakukan oleh pemerintah pada waktu itu sesuai kondisi. Usulan itu lalu disampaikan ke Pak Harto (Presiden RI, Red) dan mendapat tanggapan bagus. Kemudian dibentuklah tim untuk mengkaji.Hasilnya, untuk Jawa-Sumatera, secara ekonomis bagus. Banyak hasil dari Sumatera yang bisa dibawa ke Jawa. Seperti hasil tenun, hasil bumi dan masih banyak lagi. Tapi dari sisi teknis, ada hambatan. Kan ada Gunung Krakatau. Gunung ini secara periodik meletus, sehingga harus hati-hati. Dengan demikian, butuh waktu lama untuk melakukan kajian yang lebih mendalam. Jangan sampai gunung itu menjadi ancaman bagi jembatan yang akan dibangun. Lalu Jawa-Bali. Secara teknis tidak ada soal. Tapi secara ekonomis, masih ada soal. Sebab, kita tidak bisa lagi mengharapkan pariwisata di Bali ditempuh melalui Jawa. Apalagi lewat jalur darat. Kan sekarang ini sudah banyak pesawat yang langsung mendarat di Bali. Turis-turis sekarang tidak perlu lagi ke Jakarta, tapi bisa langsung ke Bali. Jadi secara ekonomis kurang menguntungkan. Nah, terakhir Jawa-Madura. Secara teknis no problem, dan secara ekonomis sangat menguntungkan. Maka dipilihlah Jawa-Madura sebagai priroritas.

Kapan rencana pembangunan itu dilakukan ?

Pembangunan Jembatan Surabaya-Madura itu sudah menjadi impian saya sejak tahun 1950. Sudah lama sekali.

Lalu, tahapan persiapannya sudah sejauh mana ?

Pada tingkat kajian sudah selesai dilakukan. Hanya, persoalannya berhenti pada urusan modal. Sebab, rencana pembangunan itu dulu diswastakan. Ini sangat sulit. Saya ditunjuk oleh Pak Harto (Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1990 tentang Pembangunan Jembatan Surabaya-Madura, Red) sebagai koordinator penggalangan dana dari dalam dan luar negeri. Tapi untuk membangun jembatan itu, pemerintah memutuskan harus dilakukan oleh swasta. Saya coba melobi kemana-mana sampai ke luar negeri. Lalu, ada Pemerintah Jepang melalui Bank Jepang yang bersedia memberi pinjaman dana. Tapi syaratnya harus G to G (dari pemerintah ke pemerintah, Red). Padahal, ini kan dari G to P, dari pemerintah Jepang ke PT yang saya pimpin (PT Dhipa Madura Pradana, Red). Itu yang saya tidak mampu, dari mana uangnya.

Bagaimana Anda ditunjuk sebagai koordinator, padahal kenyataannya PT yang Anda pimpin ternyata merasa tidak mampu melaksanakannya ?

Itu atas usulan Pak Larso (mantan gubernur Jatim Soelarso, Red). Kan saya waktu itu sudah tidak menjabat lagi.

Sekarang, pembangunan Jembatan Suramadu sudah terealisasi meskipun masih pada tahap pengerjaan. Bagaimana Anda melihatnya ?

Saya lihat sudah banyak kemajuan. Sudah ada kontrak dengan Pemerintah China untuk merealisasikan proyek itu. Saya kira ini sangat bagus, dan harus benar-benar diselesaikan. Perkara sekarang kekurangan dana, kan itu hanya masalah administratif saja. Mungkin lantaran terlalu cepat, sehingga tidak sesuai dengan jadwal penetapan anggaran yang baru. Padahal anggaran yang lama sudah habis, tapi mestinya harus tetap jalan terus. Mungkin dulu waktu mencantumkan anggaran prediksinya tidak tepat, sehingga kurang besar.

Kalau ditinjau lebih jauh, sejauh mana kemanfaatan Jembatan Suramadu ini bagi masyarakat Madura maupun bagi masyarakat Surabaya ?

Saya kira proyek ini bisa memberi kemanfaatan bagi seluruh masyarakat Indonesia, meskipun tidak secara langsung. Sebab, dengan dibangunnya Jembatan Suramadu  ini berarti terbuka kemungkinan untuk investasi. Apakah itu investasi dalam bentuk industri, pariwisata, pertanian, atau apa sajalah.

Anda dikenal sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat Madura. Seandainya masyarakat Madura diminta jawaban secara jujur, apa sebenarnya yang mereka harapkan dari pembangunan Jembatan Suramadu ini ?

Peningkatan kesejahteraan, itu saja. Sehingga mereka tidak lagi mencari kerja di luar negeri dengan menjadi TKI. Apalagi TKI ilegal. Betapa TKI kita diusir secara paksa, lalu wanitanya banyak yang diperkosa, sungguh sangat kasihan. Mereka bisa bekerja di lahan sendiri. Masak negara sekaya ini tapi masyarakatnya masih tetap miskin. Coba lihat Madura. Di Sampang, Pamekasan, Sumenep dan Bangkalan, itu gudangnya garam. Tapi mengapa kita masih mengimpor garam industri. Kenapa kita tidak bisa memproduksi sendiri. Hal-hal seperti inilah. Mungkin dengan pembangunan Suramadu ini, ada investor yang tertarik untuk memproduksi garam industri. Ini lapangan kerja yang bagus.

Tapi mengapa dulu para ulama Madura yang tergabung dalam Bassra (Badan Siulaturrahmi Ulama Pesantren Madura) sempat melakukan penolakan ?

Itu persoalan lain. Dulu, lantaran para alim ulama itu memahami bahwa pemerintah ingin menjadikan Madura seperti Batam. Ceritanya begini, atas undangan Pak Habibie, para alim ulama diajak keliling-keliling di Batam. Di sana, mereka memang melihat kawasan industri yang begitu bagus. Banyak pabrik berdiri yang otomatis bisa menyerap tenaga kerja lokal. Tapi di balik itu, para alim ulama juga melihat betapa pelacuran ada di mana-mana. Para pelacur berkeliaran di mana-mana, hampir ada di setiap tempat. Itu soalnya.

Sekarang, apa yang membuat para ulama dan masyarakat Madura menerima rencana pembangunan Jembatan Suramadu ?

Saya sudah seringkali bertemu dengan para bupati dan tokoh masyarakat. Saya jelaskan bahwa ini adalah kesempatan bagi masyarakat Madura untuk meningkatkan kesejahteraan. Untuk bekerja. Sekaligus untuk meningkatkan penghasilan negara.

Dibandingkan Surabaya, masayarakat madura jauh lebih bisa menerima kehadiran proyek ini. Termasuk dalam urusan pembebasan lahan, tidak banyak ganjalan yang ditemui. Apakah ini merupakan salah satu peran Pak Nur ?

Ndak tahu. Pokoknya saya hanya mengabdi pada rakyat. Pengabdian itu antara lain itu berwujud pada usaha membantu merealisasikan jembatan itu untuk meningkatakan kesejahteraan rakyat. Jangan sampai cari pekerjaan sampai jauh. Di tempat itu sudah banyak pekerjaan. Oleh karena itu, yang paling penting disiapkan oleh pemerintah adalah pendidikan. Pendidikan yang menuju ketrampilan. Sehingga dia bisa trampil, bisa mengerjakan proyek-proyek industri.

Sebagian masyarakat dan anggota dewan mengkhawatirkan soal penggunaan anggaran yang tidak sesuai dengan penggunaan yang seharusnya. Menurut Anda ?

Itu kan bisa dilihat, apa memang sudah dikerjakan sesuai rancangan. Ini kan proyek yang bentuknya fisik, sehingga bisa dipantau secara jelas. Lihat bagaimana pembebasannya, wujud fisiknya. Dari sisi Surabaya maupun dari sisi Madura, bisa dicek langsung kok.

Meski demikian, apakah perlu ada kontrol yang ketat ? Khususnya berkaitan dengna penggunaan anggaran?

Harus. Untuk proyek sebesar itu, kontrol tidak bisa tidak, harus dilakukan. Makanya saya dulu mengusulkan 3 hal untuk mengontrol pelaksanaan anggaran. Pertama, palaksana proyek harus ditenderkan secara internasional. Kedua, harus ada pengawasan setempat yang untuk memonitor terus pengerjaan proyek itu. Sebab, bisa saja pemborong itu berbuat curang dan tidak jujur. Dan pengawas setempat itu juga harus ditenderkan secara internasional. Kalau ada semacam itu, tugasnya pengawas. Lalu yang ketiga masalah keuangan. Bagian keuanganini tidak boleh mengeluarkan uang sebelum ada persetujuan dari pengawas. Sebab, persetujuan itu merupakan bukti bahwa pengerjaan proyek sudah sesuai dengan rancangan. Tidak ada kecurangan. Ketiga hal itu sudah pernah saya usulkan secara tertulis.

Ada catatan penting paska pembangunan Jembatan Suramadu ini ?

Saya ingin sampaikan 3 hal saja. Pertama, sejak proses pembangunan jembatan hingga selesai sampai akhirnya nanti mulai ada pengembangan industri, harus ada jaminan keamanan. Baik keamanan bagi masyarakat Madura, maupun jaminan keamanan bagi investasi yang akan ada nanti. Yang kedua, jangan sampai masyarakat Madura hanya menjadi penonton saja. Karena itu, kesiapan masyarakat Madura, terutama dalam hal pendidikan, juga harus dipikirkan. Pendidikan, kemampuan dan skill masyarakat Madura harus di up grade sejak dini. Dan yang terakhir, jangan sampai hal-hal yang negatif ikut masuk. Oleh karena itu, tiap-tiap kabupaten di Madura harus memiliki perda-perda yang sangat kuat sehingga dapat mencegah masuknya hal-hal yang negatif itu.

Hal-hal negatif seperti apa ?

Ya pelacuran, peredaran narkoba, perjudian, hiburan malam. Pokoknya semua hal yang dalam kehidupan sehari-hari ini bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sebab apa? Sebab masyarakat Madura itu Islamnya sangat kuat. Tapi sebaliknya, kita harus memperkuat pertahanan batin kita, sehingga hal-hal negatif itu tidak sampai masuk. Dan itu sekali lagi, kata kuncinya ada pada pendidikan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Agustus 2004 in Politik

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: