RSS

Reformasi Apa Onani ?

21 Mei

Hari ini sepuluh tahun lalu. Para aktivis menyambut jatuhnya Rezim Orde Baru dengan gegap gempita. Sorak sorai bergemuruh di mana-mana. Di ibu kota dan di kota-kota kecil, di sekitar istana dan di kampus-kampus, di ruang lobi hotel dan di warung-warung kopi, di ruang paviliun dan di sekitar ponten terminal, di sela jlepitan koper dan di balik jahitan kutang. Pokoknya di seluruh jagad angkasa nusantara hingga ke liang lahat.

Sebuah tonggak sejarah baru bagi kehidupan bangsa. Sebuah sirine yang menandai makin dekatnya tatanan demokratis yang telah diimpi-impikan selama bertahun-tahun. Dan sebuah harapan baru yang dipercaya dapat mengobati luka lama akibat ketidakadilan dan penindasan yang menjadi nafas kehidupan. Seolah-olah bangsa ini baru saja menemukan “tuhan” baru yang hanya dengan kata sim salabim dapat merubah segalanya menjadi lebih baik.

Inikah awal kehidupan baru ? Ataukah ini justru menjadi anti klimaks dari serpihan idealisme yang disulam selama bertahun-tahun ? Atau sebuah orgasme akibat persetubuhan nafsu demokrasi dan anti demokrasi yang bergelora dan berguling-guling di atas kasur kediktatoran berdinding intimidasi dan senjata ?

Bertahun-tahun, para aktivis mahasiswa melakukan pembusukan terhadap kekuasaan yang anti demokrasi. Pada saat yang bersamaan, para aktivis menyuntikkan virus-virus idealisme ke pantat rekan-rekannya yang sudah mulai keropos dan nyaris dirubung semut. Perlahan virus-virus idealisme itu mulai menggelitik dan mengacak-ngacak tatanan pikir yang sebenarnya sudah mulai mapan.

Beragam argumentasi terus diselipkan. Mulai dari bagaimana membaca situasi yang sedang berkuasa pada saat itu. Hingga upaya hipnotis untuk menggerakkan pilihan politik pada satu titik yang dinamakan demokrasi. Setumpuk dogma dijejalkan ke mulut setiap mahasiswa dan baru akan berhenti jika dia dengan penuh kesadaran bersedia meneriakkan “Turunkan Soeharto (alm) “.

Dan, para aktivis yang mengaku sudah memperoleh “wahyu” pencerahan dengan sigap segera mengambil posisi. Yakni sebagai agent of change. Sebuah posisi yang tidak pernah memberikan tempat sejengkal pun atas tindakan yang anti demokrasi serta orang-orang yang tidak pro rakyat. Tak heran jika pada saat itu mulai bermunculan “nabi-nabi” sosial yang berdakwah di kampus-kampus. Para aktivis yang menjadi “nabi-nabi” sosial ini merasa telah ditunjuk oleh Tuhan untuk membisikkan kesadaran ke telinga-telinga yang selama bertahun-tahun tersumpal debu.

Sepuluh tahun sudah berlalu. Tapi hari ini, kain bendera di halaman rumah kita masih tetap lusuh. Garuda yang bertengger di atas jutaan kepala bangsa ini pun tidak bisa terbang karena belum punya sayap yang kuat. Dan kabar dari Pak Lurah mengatakan bahwa belasan warganya hanya bisa mengisi perutnya dengan gumpalan asap kendaraan bermotor yang hitam pekat.


Putaran tasbih seorang pertapa di puncak gunung pun terhenti. Buru-buru dia mengambil handphone dari mobil Mercedez-nya yang diparkir tak jauh dari padepokannya. Dia pun mengirim sms kepada Tuhan. Isinya : Tuhan, kenapa kondisinya masih sama seperti dulu ? Apakah karena mantera-Mu sudah tidak ampuh lagi ? Bukankah sepuluh tahun lalu jutaan orang meneriakkan perubahan ? Dan bukankah dulu Engkau menunjuk ratusan aktivis sebagai nabi-nabi sosial ? Lalu kemana mereka ?

Mungkin karena sedang mengalami gangguan jaringan, setengah jam kemudian Tuhan baru membalas sms dari sang pertapa tersebut. “Ketahuilah, bahwa nabi-nabi sosial yang telah Ku tunjuk itu sekarang sudah terbagi dalam dua rombongan. Yang satu menuju selatan dan yang satu lagi menuju utara,” tulis-Nya.

Sang pertapa pun penasaran. Dengan bantuan fitur GPS yang ada di handphone Nokia 6110 Navigator miliknya, sang pertapa berusaha mencari arah yang disebutkan tadi. Ternyata, satu rombongan yang bergerak ke selatan itu sedang mengarah ke Kota Tempo Doeloe. Yakni sebuah kota yang dipenuhi dengan ketidakadilan, penindasan, intimidasi dan teror. Warganya tergolong taat dan patuh pada azas yang menjunjung tinggi nilai-nilai KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

Di sepanjang jalan, rombongan ini mencopet, mencuri, menggarong, menjarah, dan merampok setiap orang yang ditemuinya. Mereka bahkan juga meniduri dan memperkosa setiap simbol-simbol demokrasi yang tertancap di pinggir jalan. “Ini demi kepentingan rakyat. Hidup rakyat,” teriak mereka sambil terus membangun komunikasi dengan warga di Kota Tempo Doeloe yang pernah dicaci habis-habisan sepuluh tahun lalu. Di sela-sela perjalanan, para pemimpin rombongan ini sibuk menyiapkan rasionalisasi atas rute perjalanan yang dipilihnya.

Rombongan satunya lagi, sedang bergerak menuju menuju Kota Romantisme. Di kota ini, katanya, banyak menyajikan hal-hal yang berbau kejayaan masa lampau. Medianya cukup beragam. Ada film, foto, gambar, artifak serta lain-lainnya. Berbeda dengan rombongan tadi, peserta konvoi dari rombongan ini terlihat lebih santun.

Saking santunnya, mereka tidak mau intervensi terhadap seorang gadis yang sedang diperkosa orang sekampung secara ramai-ramai. Rombongan ini hanya menyapa dengan senyum sambil berlalu kepada setiap anak-anak miskin yang meminta sebagian rupiah yang dibundeli di dalam tumpukan koper berisi segepok duit milik peserta konvoi. Dan, rombongan ini juga penuh tepo seliro ketika melihat seorang pencuri yang sedang beraksi.

Sesekali rombongan ini berhenti di beberapa kota yang dilaluinya. Di tempat peristirahatan sementara itu, mereka membuka jasa konsultasi gratis. Khususnya menyangkut masalah bagaimana kiat-kiat menjadi “nabi” sosial. Di akhir konsultasi, tak lupa diselipkan sebuah penegasan bahwa semua peserta konvoi tersebut adalah para “nabi” sosial yang dulu sudah berhasil menancapkan tonggak sejarah Era Reformasi. Meski mukjizat mereka sebenarnya sudah hilang karena dirampas oleh petugas Brimob saat mengikuti demo di tahun 1998.

Tiba-tiba seorang kawan menyeletuk, “Anda ikut rombongan yang mana ?” Saya pun sempat kaget. “Lha saya kan sedang buat tulisan ini,” jawab saya singkat. Tak mau menyerah, kawan tadi melanjutkan pertanyaannya. “Ya, tapi nanti kalau sudah selesai mau ikut rombongan yang mana,” tanyanya lagi. Saya jawab, “Lha wong pendaftarannya sudah ditutup”.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Mei 2008 in Politik

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: