RSS

PK vs PKS

01 Mei

Kisruh PKS (1)

Tiada Beda PKS dengan Partai Lain?

Jakarta- Yusuf Supendi, pendiri Partai Keadilan (PK) yang kemudian bermetamorfosis menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), membuat banyak orang terhenyak. Dia membeberkan skandal penggelapan dana PKS yang dilakukan pimpinan partai itu. Dia juga menambahkan adanya perilaku tidak Islami di kalangan pimpinan partai, karena melakukan poligami secara tidak sah.

Di kalangan internal PKS, apa yang dibeberkan Yusuf sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Anggota DPR periode 2004-2009 itu gencar melakukan kampanye negatif terhadap pimpinan PKS, meskipun hanya terbatas di lingkungan elit PKS Jakarta. Hubungan buruk Yusuf Supendi dengan pimpinan PKS menjadi “resmi” setelah yang bersangkutan dipecat dari keanggotaan partai.

Namun ketika Yusuf bersuara lantang atas adanya penilepan dana oleh pimpinan PKS, semua mata pun memperhatikannya. Maklum, citra PKS sebagai partai bersih dan antikorupsi masih terjaga baik, setidaknya jika dibandingkan dengan partai-partai lain. Jika kini ada pendiri partai bernyanyi soal korupsi di internal partai, lalu apa bedanya PKS dengan partai-partai lain?

Ternyata Yusuf Supendi tidak hanya berkoar, menuduh pimpinan PKS. Dia bertindak lebih lanjut: mengadukan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq, Sekjen PKS Anis Matta dan Ketua Fraksi PKS Mahfudz Siddiq ke Badan Kehormatan (BK) DPR. Tentu saja dengan tuduhan, bahwa orang-orang yang dilaporkan ini telah melanggar norma dan etika anggota dewan.

Yusuf melangkah pasti ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia melaporkan Anis Mata atas penggelapan dana Rp 10 miliar dari total Rp 40 miliar sumbangan Adang Daradjatun dalam Pemilukada 2007. Dia juga melaporkan Luthfi Hasan atas pengelolaan dana Rp 34 miliar dari Jusuf Kalla (JK) pada Pemilu Presiden 2004. Saat itu, Luthfi adalah bendahara PKS.

Tidak tanggung-tanggung, Yusuf juga menyeret nama Hilmi Aminuddin, Ketua Majelis Syuro PKS, yang tidak lain adalah pimpinan puncak partai. Sebagai Ketua Majelis Syuro, Hilmi dianggap paling bertanggungjawab atas terjadinya skandal penggelapan dana partai. “Saya punya bukti dan puluhan saksi atas kasus penggelapan dana ini,” tegas Yusuf.

Sejauh ini Hilmi Aminuddin, Luthfi Hasan, Anis Matta maupun Mahfudz Siddiq, tampak santai saja menghadapi serangan Yusuf Supendi. Mereka berusaha menaruh hormat terhadap pendiri dan tokoh senior PKS itu. Tetapi, posisi mereka jelas dan tegas: Yusuf Supendi sudah dipecat dari PKS, semua tuduhan itu adalah fitnah, dan silakan saja membuktikan kebenaran tuduhan itu.

Para pimpinan PKS itu tidak mau melayani tuduhan Yusuf Supendi. Mereka juga tidak bersedia membeberkan kesalahan Yusuf Supendi hingga akhirnya dipecat. Keterangannya singkat saja: beliau telah melakukan pelanggaran berat sehingga kami terpaksa harus memecatnya.

Laporan pengaduan Yusuf Supendi ke BK DPR dan KPK bisa saja dipahami sebagai bentuk serangan balik pribadi terhadap pimpinan PKS atas pemecatan dirinya. Namun jika ditelusuri, laporan pengaduan bukan semata masalah pribadi, antara Yusuf Supendi dengan para pimpinan PKS saat ini.

Pernyataan dan tindakan Yusuf Supendi sesungguhnya merupakan bagian dari adanya perbedaan pandangan di kalangan internal partai. Celakanya, perbedaan pandangan sudah mengkristal menjadi perkubuan, sehingga perkawanan berubah menjadi permusuhan.

Bagi para politisi, mengelola perbedaan pandangan, perkubuan maupun permusuhan adalah biasa. Kegagalan mengelola konflik akan berdampak perpecahan. Tanda-tanda itu sudah tampak di PKS dengan akan hadirnya organisasi baru yang dibentuk para pendiri atau aktivis PKS. “Silakan saja bentuk ormas, kami tahu kekuatan mereka,” kata Anis.

Jika itu terjadi, PKS agaknya akan mengikuti “fitrah” partaiIndonesia: pecah dan dilanda perpecahan. Yang kedua, jika pimpinan PKS tidak bisa membalikkan tuduhan Yusuf Supendi, bahwa tidak benar ada korupsi di internal partai, maka PKS pun akan mendapat predikat yang sama dengan partai-partai yang lain: sarang koruptor.

Inilah tantangan pimpinan PKS. Sebab, terlepas dari benar tidaknya tuduhan Yusuf Supendi, apa yang disampaikannya sudah mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap PKS. Dan mengubah persepsi itu bukan pekerjaan mudah.

Rumah Yusuf Supendi

Kisruh PKS (2)

Yusuf Supendi, Orang Baik Yang Diberi Tanda Silang Merah

Jakarta- Sebuah tanda silang berwarna merah masih terlihat di pagar rumah Yusuf Supendi. Rumah di Kelurahan Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur itu tersebut sangat besar dan berlantai tiga. Sebuah mobil Suzuki Carry berwarna biru terparkir di halaman rumah yang terletak di gang sempit tersebut.

Rumah berwarna hijau itu dihiasi tanda silang merah sejak Juli 2010 lalu. Yusuf menduga cat bermotif silang itu merupakan bentuk teror. Pelakunya diduga adalah orang-orang yang tidak senang kepada mantan pendiri Partai Keadilan (kini PKS) yang mencoba membongkar ‘aib’ sejumlah elit PKS.

“Tanda itu mulai ada sejak pertengahan Juli, yang saya ingat pukul 19.30 WIB tanda itu mulai ada di depan rumah saya. Kata polisi tanda itu sebagai petunjuk sasaran. Maksudnya saya,” ujar Yusuf Supendi saat ditemui detikcom di rumahnya.

Yusuf belakangan menjadi sorotan karena pernyataannya yang membongkar ‘aib’ sejumlah elit PKS. Bahkan ia juga melaporkan beberapa elit PKS, seperti Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq, Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin, dan Sekjen PKS Anis Matta ke Badan Kehormatan (BK) DPR dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Anis Mata dilaporkan atas penggelapan dana Rp 10 miliar dari total Rp 40 miliar sumbangan Adang Daradjatun dalam Pilkada Jakarta 2007. Luthfi Hasan atas pengelolaan dana Rp 34 miliar dari Jusuf Kalla (JK) pada Pemilu Presiden 2004. Saat itu, Luthfi adalah bendahara PKS.

Tidak tanggung-tanggung, Yusuf juga menyeret nama Hilmi Aminuddin, Ketua Majelis Syuro PKS, yang tidak lain adalah pimpinan puncak partai. Sebagai Ketua Majelis Syuro, Hilmi dianggap paling bertanggungjawab atas terjadinya skandal penggelapan dana partai. “Saya punya bukti dan puluhan saksi atas kasus penggelapan dana ini,” tegas Yusuf.

Tidak cuma masalah penggelapan uang, Yusuf juga membuka poligami elit PKS yang tidak sah secara Islam. Siapa sebenarnya Yusuf Supendi? Nama Yusuf sebelumnya memang tidak terlalu populer bagi publik. Padahal selama menjadi anggota DPR periode 2004-2009, ia sering beruara keras dan kritis terhadap pemerintah. Jabatannya di PKS juga bukan sembarangan.

Ia memegang sejumlah jabatan penting di PKS. Pria kelahiran Bogor, 15 Mei 1958, ini merupakan salah satu pendiri PK. Di PKS, Yusuf pernah menjadi anggota Majelis Syuro, Ketua Mahkamah Syariah dan Wakil Ketua Dewan Syariah DPP PKS. Posisi tersebut cukup strategis karena menjadi salah satu rujukan syariah dalam pengambilan keputusan-keputusan partai. Sebagai ustadz yang berada di dewan syariat, Yusuf tabu betul apa pelanggaran moral yang dilakukan kader-kader PKS.

Namun Yusuf kemudian dipecat dari PKS tahun lalu. Wakil Sekjen PKS Mahfudz Siddiq mengatakan, Yusuf dipecat karena melanggar aturan partai. “Saya tidak mau membuka aib. Masalahnya keuangan,” jelas Mahfud kepada detikcom. Namun Yusuf merasa pemecatan dirinya tidak sah karena hingga sekarang ia tidak pernah menerimasuratpemecatan tersebut.

Para pihak yang kena tuding Yusuf mulai dari Hilmi, Anis Matta, Mahfudz Siddiq dan Tifatul Sembiring sudah memberikan bantahan. Aib yang diungkap Yusuf bukan masalah baru bagi PKS. Sumber detikcom mengungkapkan Yusuf dipecat karena terus menerus menyebarluaskan soal penggelapan dana itu padahal sudah diberi penjelasan oleh Anis Matta. “Ia lebih mempercayai cerita orang luar daripada penjelasan resmi partai,” ungkap sumber tersebut.

Dibekingi Penguasa?

Anis Matta cs lantas menduga ada yang menunggangi Yusuf. Terlebih pria kurus itu membongkar aib itu dalam situasi politik saat ini di mana PKS diancam akan didepak dari koalisi dengan SBY. “Tujuannya saya kira sudah jelas. Dia dipakai pihak tertentu untuk merusak nama PKS. Ini seperti sudah diskenario oleh pihak-pihak tertentu,” jelas Mahfudz tanpa menjelaskan pihak mana yang akan diuntungkan dengan tindakan Yusuf.

Tapi elit PKS yang menolak disebut namanya menuding Yusuf telah dimanfaatkan pihak penguasa untuk menjelekkan PKS. Yusuf pun tidak sendirian. Di belakang Yusuf, ada mantan Wapres Partai Keadilan Syamsul Balda. Nah Syamsul inilah yang memberi pengaruh kuat pada Yusuf. Syamsul, kata sumber itu, suka ‘jalan’ kemana-mana, termasuk berhubungan dengan  intelijen. “Nah, dengan pergaulannya tersebut Syamsul ada kemungkinan dimanfaatkan. Yang jadi martirnya adalah Yusuf,” kata elit PKS itu.

Tudingan elit itu disanggah Syamsul Balda. Ia kini aktif berbisnis dan tidak lagi tertarik pada politik. Dia menilai tidak ada partai yang idealis. Bagi dia, seluruh partai sudah menjadikan organisasi untuk mencari uang, bukan untuk menyejahterakan umat.

Menurut Syamsul, kredibilitas Yusuf tidak perlu diragukan lagi. Yusuf sangat mengetahui isi perut PKS. “Dia tahu isi perut PKS, kalau dia bongklar dia tahu isi seluruh perut PKS. Semua orang di PKS bisa ketahuan,” kata Syamsul.

Ketua Bidang Kaderisasi dan Perempuan Majelis Pertimbangan Partai PKS Abu Ridha yang juga sahabat Yusuf juga memberi kesaksian Yusuf merupakan orang yang jujur dan sikapnya membuka aib elit PKS bertujuan untuk kebaikan. “Orangnya jujur, insya Allah,” kata Abu Ridha.

Beberapa tetangga Yusuf juga memberi kesaksian Yusuf merupakan orang yang baik. Sebelum menjadi anggota DPR, Yusuf lebih dikenal sebagai ustad yang rajin berdakwah. Kini pun setelah dia tidak lagi di DPR, rumah Yusuf sering dipakai untuk pengajian. “Pak Yusuf orangnya baik,” kata Marlina, tetangga Yusuf yang membuka warung tidak jauh dari rumah Yusuf.

Yusuf mulai tinggal di Kelurahan Pekayon sejak 1990. Rumahnya berlantai 3 dengan cat berwarna hijau. Namun kata Yusuf, rumah besarnya itu, sekalipun terletak di dalam gang lumayan sempit, dia bangun sebelum jadi anggota DPR. Informasi yang diperoleh detikcom, selain pernah menjadi anggota dewan, Yusuf juga aktif sebagai pengajar di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, penceramah, membuka usaha ATK, showroom mobil dan motor, service AC mobil, dan membuka warung soto Betawi.

Saat ini, Yusuf mempunyai 5 orang anak dari hasil pernikahannya dengan Umi Widhyani. Yusuf hingga kini masih beristri satu meskipun ia tidak menentang poligami. “Yang saya ketahui tidak poligami. Istrinya satu dan sekarang masih sakit,” ujar Ridha.

Kisruh PKS (3)

Puncak Kemarahan Faksi Keadilan Pada Kesejahteraan

Jakarta- Yusuf Supendi kini seolah menjadi momok bagi elit PKS. Betapa tidak, mantan anggota DPR dari PKS ini secara blak-blakan membuka borok elit-elit PKS ke publik. Padahal PKS selama ini berjuang untuk menjaga citra bersih dan peduli yang menjadi tagline-nya.

Beberapa elit yang ditohok dengan pernyataan Yusuf adalah Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin, Presiden PKS Luthfi Hasan, Sekjen PKS Anis Matta, mantan Presiden PKS Tifatul Sembiring, serta Wasekjen PKS Mahfudz Siddiq. Mereka diserang dengan kasus berbeda. Hilmi, Luthfi, dan Anis Matta dibidik soal penggelapan uang partai. Sementara Tifatul dan Mahfudz dituding telah melakukan poligami yang tidak sah.

Pembeberan ‘borok’ elit PKS tersebut terang saja langsung menyedot perhatian publik. Sebab skandal yang menimpa partai dakwah tersebut selama ini bisa dihitung dengan jari. Jangan heran kalau pernyataan blak-blakan Yusuf jadi mengejutkan banyak orang.

Konflik di PKS sebenarnya sudah berlangsung lama. Secara sederhana, pengamat politik PKS Imdadun Rahmat mengungkap ada dua faksi yang berkonflik di PKS yakni Faksi Keadilan dan Faksi Kesejahteraan.Tindakan Yusuf mengumbar aib PKS ke publik merupakan puncak dari konflik dari Faksi Keadilan dengan Kesejahteraan yang berlangsung sejak 2008. “Ini semacam titik kulminasi atau puncak,” kata penulis buku ‘Ideologi Politik PKS’ itu.

Faksi Keadilan terdiri dari kelompok yang kritis dan oposisi terhadap kebijakan DPP PKS. Sementara Faksi Kesejahteraan adalah kelompok elit PKS yang kini sedang berkuasa. Faksi keadilan ini kini terbagi dalam dua kelompok yakni Forum Penyelamat PKS atau kadang juga disebut Forum Kader Peduli PKS dan kelompok jaringan dai Korp Mubalik Khoiru Umah. Korp ini merupakan elemen penting dari tokoh awal proses pendirian PKS.

Forumn Kader Peduli PKS, berdiri pada September 2008 dan berpusat di Masjid Al Hikmah Mampang Prapatan tempat PKS pertama kali dideklarasikan. Tokoh penting yang jadi pentolan di Forum Penyelamat PKS ya Yusuf Supendi itu. Namun di balik Yusuf, ada lagi tokoh yang lebih berpengaruh yakni Syamdul Balda, mantan Wapres Partai Keadilan.

Syamsul yang pernah menjadi anggota DPR Komisi XI periode 1999-2004 ini juga sudah dikeluarkan dari PKS. Masuk dalam forum ini adalah sejumlah sesepuh PKS. “Didin Hafidhuddin juga masuk dalam kelompok ini,” kata Imdadun. Didin yang kini merupakan Ketua Umum Badan Pengurus Badan Amil Zakat Nasional pernah masuk dalam capres yang dijaring PKS.

Selain tokoh-tokoh tersebut, perlawanan juga dilakukan tokoh lainnya namun lebih halus. Mereka yang mengritisi PKS dengan lembut misalnya Ikhsan Tandjung dan Ketua Bidang Kaderisasi dan Perempuan Majelis Pertimbangan Partai PKS Abu Ridha.

“Para kelompok kritis ini  mengidentifikasi diri sebagai kelompok keadilan, Yusuf Supendi itu dari kelompok keadilan ini. Lalu yang dikritisi itu merupakan kelompok kesejahteraan,” kata Imdadun.

Bagi Faksi Keadilan, Faksi Kesejahteraan dianggap sudah menggeser semangat PKS dari partai dakwah menjadi partai pragmatis. Contoh pragmatisme politik Faksi Kesejahteraan misalnya muncul dalam Pilpres 2004. Hilmi dan Anis Matta mendukung Wiranto, padahal saat itu secara resmi PKS mendukung Amien Rais. Kubu Yusuf lebih mendukung Amien yang dinilai lebih bisa memperjuangkan kepentingan dakwah Islam dibanding Wiranto yang seorang militer yang dinilai sekuler.

Yusuf dan kawan-kawan menduga ada kepentingan uang di balik dukungan Hilmi cs pada Wiranto. “Sudah 8 kali rapat Majelis Syuro memutuskan untuk mendukung Pak Amien. Tapi keputusan itu dieliminir oleh Hilmi Aminuddin, Ketua Majelis Syuro,” jelas Yusuf yang pernah menjabat Wakil Ketua Majelis Syuro PKS.

Kekecewaan kubu Yusuf semakin menjadi ketika saat Pilpres 2009 lalu yang mengiklankan Soeharto sebagai pahlawan nasional. Tindakan ini bagi Yusuf cs, merupakan bukti PKS telah menyimpang dari visi semula. Soeharto bagi para tokoh sepuh dianggap sebagai penguasa yang sudah menghancurkan gerakan Islam.

Bermewah-mewah

Faksi Keadilan juga kesal ketika dalam Pilkada DKI Jakarta PKS mendukung Adang Daradjatun yang dinilai tidak cukup Islami. Yang lebih membuat Faksi Keadilan makin prihatin pada PKS adalahgayahidup elit PKS yang belakangan bermewah-mewah.

“Sekarang sedang diangkat ke permukaan bahwa mereka ini tidak rela tokoh elitnya hidup bermewah mewah dari uang haram, misalnya penggelapan uang atau dana partai. Padahal kehidupan hedonis dan mewah dianggap sebagai penyimpangan dari konsep pribadi atau pimpinan ideal menurut PKS. Apalagi ditemukan indikasi pengelapan dana partai, ini membuat kelompok keadilan ini makin marah,” terang Imdadun.

Elit yang paling jadi sorotan karena berubah semangatnya adalah Anis Matta dan Mahfudz Siddiq. Dua tokoh muda ini dinilai Yusuf, sudah menjadi sosok yang pragmatis dan tidaklagi memperjuangkan fungsi dakwah partai. Selain itu Anis dituduh melakukan penggelapan dana, sementara Mahfudz Siddiq dituduh melakukan poligami secara tidak sah. Atas tuduhan Yusuf ini, keduanya telah tegas membantah.

Kebetulan Anis dan Mahfudz memang hidup berkecukupan. Dari laporan hasil kekayaan pejabat negara (LHKPN), harta kedua tokoh PKS yang sedang naik daun tersebut bisa dibilang cukup berlimpah. Dalam data LHKPN yang dilaporkan Anis pada Desember 2009, total kekayaan Sekjen PKS ini tercatat Rp 6.479.720.000 dan U$ 10 ribu. Dari kekayaan itu, harta tak bergerak berjumlah Rp 5,7 miliar yang paling banyak berupa tanah di di Kota Kendari Sulawesi Tengah. Anis mendapatkan tanah itu dari warisan, hibah, dan juga hasil sendiri. Hibah terbesar tanah 20.000 m2 di Kendari.

Selain tanah yang luas itu, Anis juga melaporkan memiliki mobil Toyota Harrier 2008,Toyotakijang 2000, Honda Supra 1996. Total harga bergerak itu Rp 245 juta.  Dalam LHKPN, Anis menulis memiliki dua istri yakni Anaway Irianti Mansyur dan Szilvia Fabula.

Sementara Mahfudz, dalam laporan kekayaannya pada November 2009, menulis jumlah harta kekayaannya Rp 1.141.800.000 Dan U$ 2.500. Harta tidak bergerak yang dimiliki Mahfudz berupa tanah dan bangunan yang umumnya berada di Kota Bekasi berasal dari usaha sendiri dan warisan. Total harta tidak bergerak yang dimiliki Mahfudz Rp 260 juta.

Sedang harta bergerak, Mahfudz memiliki Honda CRV 2009, Suzuki APV 2008, Suzuki APV 2004, dan motor Nouvo 2003. Total harga bergerak Rp 791 juta. Mahfudz juga memiliki utang Rp 245 juta. Mengenai istri, dalam laporannya Mahfudz yang disebut Yusuf memiliki dua istri, ternyata hanya menuliskan satu istri, atas nama Triyekti Kusumaningsih.

Yusuf pun menuding, kalau mereka sudah menggadaikan idealisme demi mendapatkan uang. “Harusnya seorang pemimpin PKS memberi contoh yang baik,” kata Yusuf.

Kubu Kesejahteraan menganggap serangan Yusuf merupakan serangkain skenario untuk merusak citra PKS. Namun mereka masih berusaha menahan diri dan tidak terlalu serius menanggapi tudingan Yusuf. PKS, kata Mahfudz, sudah terlalu capek berurusan dengan Yusuf.  Proses pemecatan Yusuf dari PKS berlangsung sangat panjang. “Kami sudah lama di PKS memproses ini, ya, capek juga. Kalau BK (Badan Kehormatan DPR) mau ikut capek, silakan. KPK mau ikut capek, silakan. Nggak ada masalah,” cetus Mahfudz.

Kisruh PKS (4)

Siapa Lebih Dipercaya, Yusuf Apa Anis Matta?

Jakarta- Yusuf Supendi akhir-akhir ini sangat sibuk. Ia terus saja bergerak membongkar aib elit Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Setelah ke BK DPR, KPK, LPSK, Yusuf pun akan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Selanjutnya ia akan ke Badan Intelijen Negara (BIN) untuk mengklarifikasi SMS yang dikirimkan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hassan Ishaaq pada dirinya.

Yusuf tidak akan berhenti sampai tujuannya terpenuhi. Ia ingin elit PKS yang ditudingnya, Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminudin, Sekjen PKS Anid Matta dan Luthfi Hasan mengakui kesalahannya dan dipecat dari PKS. “Saya juga ingin katakan, gue kagak bakal bergeser membedah skandal kejahatan dan pelanggaran AD/ART yang dilakukan para elite PKS yang disebut sebagai anak nakal,” kata Yusuf.

Pendiri cikal bakal PKS, Partai Keadilan, itu ingin ketiganya menemui dirinya serta membawa data mereka tidak bersalah seperti yang sudah ditudingkannya. Bila ketiganya tak mau datang, cukup PKS memecat mereka maka aksi Yusuf akan berhenti.

“Otomatis, bila mereka dipecat detik ini juga saya akan berhenti, jika tidak urusannya panjang dan saya akan membongkar kejahatan sistemik ini setelah mereka keluar,” kata Yusuf saat ditemui di kediamannya.

Sebelum PKS geger karena Yusuf, partai ini sudah lama diterpa isu sedang bermasalah. Isu yang paling santer sejak dulu terbelahnya PKS dalam dua faksi yakni Faksi Keadilan dan Faksi Kesejahteraan. Fraksi Keadilan disebut-sebut sebagai kelompok kader yang memiliki sikap idealis, Yusuf masuk dalam faksi ini. Sementara, Faksi Kesejahteraan merupakan kelompok kader yang memiliki sikap pragmatis yang didentikkan dengan para penguasa PKS.

Langkah Yusuf melaporkan para petinggi PKS dinilai pengamat politik PKS Imdadun Rahmat merupakan puncak perseteruan antara Faksi Keadilan dengan Faksi Kesejahteraan. Dalam geger PKS ini, kubu mana yang lebih bisa dipercaya?

Kader tingkat akar rumput PKS banyak yang tidak mau komentar dan bersikap ‘no coment’ tentang perseteruan yang kini menggegerkan dunia politik nasional itu. Bahkan, sejumlah simpatisan PKS yang berada di Mahad Al Hikmah di Jl Bangka II, Jakarta Selatan, tempat Yusuf mencetak para kader PKS pun tak mau berkomentar. Begitu juga di lingkungan kediaman Yusuf di Jl Lapan V, RT 004 RW 01, Kalisari, Jakarta Timur.

Tapi sebagian kader PKS, terutama yang berpihak kepada pimpinan Dewan Pengurus Pusat banyak yang mencibir upaya Yusuf. Tudingan Yusuf dinilai tidak disertai data-data yang akurat. Bagi kelompok ini, ulah Yusuf tidak perlu ditanggapi karena memang sudah sering dilakukan. Yusuf sering mengirimkansuratke mana-mana, namun tidak pernah ditanggapi secara serius oleh PKS.

“Ya dia itu memang begitu, anda lihat saja bagaimana sikapnya selama ini. Dia melakukan operasi yang memang tidak punya target hukum, tapi targetnya bagaimana isu-isu yang dilontarkannya itu masuk ke mediamassa. Ini operasi yang sederhana,” ujar sumber di lingkungan PKS kepada detikcom.

Namun bagi kelompok yang kritis terhadap PKS, Yusuf dianggap layak dipercaya. Ketua Bidang Kaderisasi dan Perempuan di Majelis Pertimbangan Partai (MPP) PKS Abu Ridha menilai Yusuf sebagai orang yang jujur. Yusuf yang merupakan pendiri Partai Keadilan itu mempunyai posisi yang dihormati di PKS. Ridha yang sudah lama bersahabat dengan Yusuf yakin bila yang dilakukan sahabatnya itu bukan untuk menjelek-jelekkan PKS.

Meski begitu Ridha tidak mau dimasukkan dalam kubu-kubuan di PKS. “Saya tidak masuk dalam kubu-kubuan itu. Saya profesional saja, apa yang menjadi tugas saya, ya saya lakukan,” kata Abu Ridha.

Mantan Wakil Presiden Partai Keadilan (PK) Syamsul Balda juga menilai tudingan Yusuf bukan cuma bualan. “Beliau sebagai ulama. Saya berkesimpulan apa yang dilaporkan beliau ada faktanya, beliau punya dokumen dan fakta yang lengkap,” kata Syamsul.

Anis Matta yang kena tuding melakukan pelanggaran organisasi dan penggelapan uang pun melakukan bantahan. Tuduhan Yusuf, katanya, tidak memiliki data dan fakta yang akurat. Anis pun belum akan mengambil langkah hukum. “Semuanya belum ada fakta-faktanya,” kata Anis.

Sikap santai juga diungkapkan Mahfudz Siddiq yang juga kena tuding berpoligami secara tidak sah. Serangan Yusuf dinilai akan membuat kader PKS makin solid. Kader semakin paham ketika mereka bekerja keras akan ada ancaman isu. Selain itu, saat ini orang semakin tahu dan paham bahwa PKS tetap konsisten memegang aturan sistem organisasi, bahwa pemecatan kepada orang yang melanggar aturan tidak hanya dilakukan kepada kader, tapi juga tokohnya.

PKS akan bersikap tegas setelah semua serangan habis. Sebelumnya rangkaian isu sudah menerpa PKS seperti isu Daging Berjenggot, Video Mesum mirip Anis Matta, juga isu reshuffle dan koalisi. “Kita baru akan jelaskan kepada publik kalau serangan isu itu sudah tuntas semua, inikanbelum,” kata Mahfudz.

Anis cs yang sering diidentikkan sebagai Faksi Kesejahteraan saat ini memang boleh di bilang di atas angin. Merekalah penguasa PKS. Namun kemenangan mereka belum tentu akan terus bertahan. Menurut Imdadun, bisa jadi di masa depan justru Faksi Keadilan yang menang.

“Kelompok oposisi saat ini memang belum memperoleh pengikut yang signifikan. Tapi yang menjadi daya tarik utama PKS adalah kebersihan dan kemurnian perjuangan. Kalau daya tarik utama ternodai praktek kotor, PKS akan kehilangan magnet gerakan,” kata Imdadun.

Agar PKS tidak kehilangan magnet itu, menurut Imdadun, tudingan Yusuf harus diselesaikan secara gamblang lewat hukum. Misalnya tuduhan kepada Sekjen DPP PKS Anis Matta yang dituduh menggelapkan Rp 10 Miliar terkait Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta tahun 2008 silam.

“Itu harus diungkap segamblang-gamblangnya. Kalau memang terbukti nanti akan jadi pelajaran yang baik bagi PKS sendiri. Kalau tidak terbukti, maka fitnah kekacauan ini bisa segera diakhiri. Kalau terbukti tidak benar berarti memang partai ini bersih dan peduli seperti jargon selama ini,” demikian Imdadun.

Kisruh PKS (5)

Yusuf Supendi: Saya Ada Peluru, Roket dan Rudal

Jakarta- Yusuf Supendi memiliki banyak amunisi untuk menyerang para elit PKS. Ia akan berhenti menyerang bila kelompok Anis Matta cs mengakui kesalahannya dan dipecat dari PKS.

“Saya masih banyak informasi soal anak nakal ini yang belum saya ungkapkan. Kalau ini saya buka, semua akan diam. Saya ada peluru, roket dan rudal. Sekarang baru peluru yang dikeluarkan. Saya akan berusaha seadil mungkin untuk membukanya,” kata Yusuf saat ditemui di rumahnya, Jalan, Lapan V, RT 004 RW 01, Kalisari, Jakarta Timur.

Ustad kurus ini menegaskan sikapnya membongkar aib elit PKS itu untuk memperbaiki PKS. Ia membantah ada pihak yang menungganginya. “Tidak ada manusia yang mengatur saya. Tapi saya percaya Allah yang mengatur. Ya kalau saya dikatakan dekat dengan partai lain ya itu hak saya juga. Misalnya ada yang konsultasi soal pernikahan dan sebagainya,” kata Yusuf.

Berikut wawancara Rizal Maslan dari detikcom dengan Yusuf Supendi:

Apa motif dan alasan serta tujuan Bapak membongkar dosa-dosa PKS? Kenapa baru sekarang?

Memang banyak yang menanyakan itu semua dan menjadi pembicaraan semua orang, khususnya di PKS sendiri. Kenapa sih Ustad Yusuf berani dan kritis dan satu-satunya orang yang berani bicara. Pertama, ada yang mengatakan memang dasar karakter Ustad Yusuf itu memang berani. Kedua, memang memahami aturan partai.

Saya memang memiliki pengalaman organisasi ketika menjadi mahasiswa diRiyadh, Arab Saudi selama tiga tahun menjadi Ketua Ikatan Mahasiswa Asia Tenggara dan ikut dalam keanggotaan ikatan mahasiswa 140 negara. Wajar kalau saja kalau berita ini mendunia, saya yakin mereka tahu semua soal ini.

Saya memang mau membedah kejahatan-kejahatan elit PKS bukan untuk menggoyang PKS. Saya masih banyak informasi soal anak nakal ini yang belum saya ungkapkan. Kalau ini saya buka, semua akan diam. Saya ada peluru, roket dan rudal. Sekarang baru peluru yang dikeluarkan. Saya akan berusaha seadil mungkin untuk membukanya.

Betulkah Bapak mengungkapkan ini karena ditunggangi atau dimanfaatkan orang lain?

Tidak ada manusia yang mengatur saya. Tapi saya percaya Allah yang mengatur. Ya kalau saya dikatakan dekat dengan partai lain ya itu hak saya juga. Misalnya ada yang konsultasi soal pernikahan dan sebagainya.

Sekali lagi, apa yang saya ungkapkan ini bukan untuk menghancurkan PKS, tapi memperbaiki PKS. Motivasi saya adalah bagaimana berbuat amal ma’ruf nahi mungkar untuk membedah kebohogan, ketidakadilan dan penyimpangan.

Kebohongan dan penyimpangan seperti apa yang Bapak maksudkan?

Begini, terkait Hilmi Aminuddin (Ketua Majelis Syuro PKS), yang pada bulan Juli 2004 lalu saya anggap telah berbuat semena-ena dengan menganulir 8 kali keputusan tiga lembaga tinggi, yaitu Majelis Pertimbangan Partai (MPP), Dewan Syuro Partai (DSP) dan Dewan Pengurus Pusat (DPP) yang secara aklamasi atau voting memutuskan dalam Pilpres 2004 untuk memilih Amien Rais.

Majelis Syuro PKS yang kedua juga memutuskan untuk  konsentrasi di parlemen, tidak ikut koalisi. Lalu pada rapat Majelis Syuro berikutnya ada usulan untuk ikut koalisi. Nah, saya yang termasuk tidak setuju dengan ide kedua itu, karena keputusan yang pertama belum diimplementasikan. Oleh karena itu diambil jalan tengah di mana Majelis Syuro memerintahkan agar tiga lembaga untuk melakukan pengkajian tentang musyarokah (Koalisi). Tapi dengan delapan kali keputusan tetap untuk memilih Amien Rais.

Karena keputusan itu tidak berkenan dan tidak sesuai dengan Hilmi Aminuddin, maka keputusan ketiga lembaga itu dianulir melalui rapat Majelis Syuro keenam yang dilaksanakan di Villa Anyer, Banten tanggal 24 Juni 2004 yang dipimpin Ketua MPP Rahmat Abdullah. Hilmi meminta agar PKS mendukung Wiranto. Saya interupsi dan minta penjelasan tentang pembatalan delapan keputusan itu dengan meminta kepada peserta untuk mengacu kepada Alqur’an, Hadist, Syiroh dan Sejarah Ikhwanul Muslimin.

Saya tanyakan apa ada landasan untuk mengeliminir delapan keputusan tiga lembaga itu. Semua tidak ada yang bisa menjawab. Dari situ, Hilmi semakin marah. Kemudian tanggal 30 Juni 2004 jam 12 malam dibuat Bayan, yang menjelaskan tentang rekomendasi tidak mengikat. Sementara, baik dalam nizham Aal dan nizham asasi bahwa keputusan Majelis Syuro mengikat.

Akhirnya saya pun protes lagi, karena disebabkan dalam kedua nizham itu apabila ada Muraqib Aam, nah di sini ada kerancuan apakah Majelis Syuro atau Muraqib Aam. Saya katakan, kalau calon Muraqib Aam terpilih harus dibaiat terpebih dahulu.

Maka, pada bulan April 2000 sebelumnya bertepatan di Hotel Cikopo, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Hilmi melakukan baiat di hadapan anggota Majelis Syuro Partai Keadilan (PK) pada sidang Majelis Syuro yang pertama.

Di antara isi baiat atau janji setia itu adalah dituliskan “Saya akan tunduk dan patuh atas keputusan-keputusan Majelis Syuro, sekalipun tidak sejalan dengan pendapat saya”.  Nah, apa yang menjadi keputusan Majelis Syuro tanggal 20 Juni 2004 untuk mendukung Amien Rais itu memperoleh dukungan suara voting sekitar 70 persen. Kemudian Hilmi, Lutfhi dan Anis melakukan manuver dan membelot ke Wiranto sesuai dengan keinginannya, maka di situlah disebut pengkhianatan pada Baiat di Cikopo.

Tadi malam (Rabu, 23/3/2011) saya kedatangan Ketua DPW PKS DKI Jakarta Slamet Nurdin dan beberapa orang lainnya. Saya sempat telepon polisi dulu sebelum mereka masuk. Saya tanyakan kepada mereka, apakah datang ke sini atas perintah atasan atau inisiatif sendiri. Kalau atas perintah atasan pertemuan akan berjalan singkat. Ternyata pertemuan tadi malam berlangsung cukup malam. Artinya, mereka juga resah dan ingin bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Saya sempat katakan kepada Slamet Nurdin bahwa selevel dirinya yang menjabat Ketua DPW tidak mengerti soal poligami Mahfudz Siddiq yang tidak sah, yang diganjar dengan sanksi oleh Dewan Syuro pusat. Jadi wajar antum sembah-sembah Mahfudz Siddiq. Soal Anis Matta, saya katakan kepada Ketua DPW PKS DKI Jakarta itu, antum masih memuji-muji Anis Matta. Padahal saya punya sejarah tentang kebohongan secara lisan dengan saksi Ir Suswono (sekarang Menteri Pertanian) soalsuratpengunduran diri Hidayat Nurwahid, karena dipilih menjadi Ketua MPR. Di mana Anis mengatakan adasuratpengunduran diri itu kepada Suswono padahal tidak ada.

Lalu bagaimana soal sikap Bapak ini yang dibantah dan menerima intimidasi membongkar ini?

Di LPSK dan lembaga lainnya hari ini saya memang akan ungkapkan substansi apa yang ingin saya sampaikan. Saya juga ingin katakan, gue kagak bakal bergeser membedah skandal kejahatan  dan pelanggaran AD/ART yang dilakukan para elite PKS yang disebut sebagai ‘anak nakal’ itu. Kejahatan yang mereka lakukan kepada pelanggaran Sistem, AD/ART, Kebijakan dan Keuangan.

Selain BK DPR, KPK, LPSK, MK, saya juga akan datang ke kator Badan Intelijen Negara (BIN) untuk meminta klarifikasi tentang pesan singkat dan SMS yang dikirimkan Presiden DPP PKS Lutfhi Hasan Ishaaq pada tanggal 15 Juli 2010.

Di mana nomor telepon Lutfhi 0816940797 mengirimkan pesan ke nomor HP saya jam 22.11 WIB, bunyinya: “Kiai berkolaborasi dengan orang BIN dan pengganggu istri orang,”. Pekan depan saya akan ke BIN untuk memperjelas benar tidak saya berkolaborasi dengan BIN. Selain itu, saya juga akan datangi PPATK. Pasti mereka akan takut semua.

Soal isu penggelapan punya bukti akuratnya?

Kalau saya ditanya soal itu oleh meraka, saya bilang nggak ada urusan. Tapi saya punya banyak bukti.

sumber : detik.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Mei 2011 in Politik

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: