RSS

Petingginya Keblinger Sapi (PKS)

13 Jun

 (suara sapi) : emmmmuuuoooooooooooooooo…………..

Sapi-sapi Australia itu mengerang kesakitan. Entah karena dapat laporan dari intelejen atau memang benar-benar paham bahasa sapi, sebuah LSM pembela hak asasi binatang dari Australia (RSPCA) datang untuk merekam. Hasilnya, mereka menemukan 11 Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang memperlakukan sapi Australia itu dengan cara yang keji. Melalui salah seorang investigatornya, Lyn White, hasil rekaman itu dilaporkan kepada pemerintah Australia. Dan ternyata, Australia ‘lebih sapi’ dari India. Mereka berang. Puncaknya, Australia mengancam akan mengurangi atau bahkan menghentikan ekspor sapi ke Indonesia.

Dalam cuplikan video berdurasi 2:49 menit itu terekam perlakuan terhadap sapi Australia di sebuah RPH. Sebelum disembelih, sapi itu sempat tergelincir di atas lantai yang licin. Seorang jagal mendekat lalu mencambuknya hingga berulang-ulang. Dalam kondisi tergeletak, tiba-tiba ekor sapi itu dipotong. Sapi itu pun berdiri dan mengerang kesakitan. Sesaat kemudian, sapi itu dijatuhkan dengan cara mengikat keempat kakinya. Dalam kondisi terikat, seseorang kembali mendekat dan menendang kepalanya berkali-kali. Bahkan di RPH lainnya, Lyn White menemukan para jagal mencukil mata sapi dalam kondisi masih hidup. Lalu menuangkan air ke hidung sapi tersebut.

Kepala riset RSPCA Bidda Jones menambahkan, rata-rata sapi Australia di Indonesia harus dipotong tenggorokannya sampai 10 kali sebelum mati. Bahkan ada yang sampai 33 kali. Hal ini membuktikan kurangnya keahlian dan ketidaklayakan pisau yang digunakan. Lantas, apa yang menarik dari carut marut bisnis impor sapi ini?

Ternyata, bisnis daging sapi bak perawan cantik yang masih muda, berkulit mulus dan bertubuh seksi. Sungguh sangat menggiurkan. Bagaimana tidak, sejak awal tahun 1990 ketersediaan sapi lokal sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan daging secara nasional. Karena itu, pada tahun 1990 untuk pertama kalinya Indonesia mengimpor sapi. Jumlahnya mencapai 18 ribu ekor. Celakanya, nilai impor daging sapi memiliki kecenderungan naik dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2004, Indonesia mengimpor 13 ribu ton daging sapi. Menurun 1,7% pada tahun berikutnya menjadi 12,8 ribu ton. Tapi tahun berikutnya naik 200 persen lebih menjadi 25,9 ribu ton. Dan pada tahun 2007 dan 2008 masing-masing tercatat berada pada kisaran 47,8 dan 52,7 ribu ton.

Pada tahun 2011 saja, pemerintah mematok kebutuhan daging sapi nasional mencapai 72 ribu ton. Proyeksi ini diperkirakan akan membengkak menjadi 93 ribu ton. Atau bahkan bisa sampai tembus di angka 119 ribu ton seperti tahun 2010. Dari jumlah tersebut, realisasi impor pada semester pertama baru mencapai 39 ribu ton. Bisa dibayangkan jika tiba-tiba Australia mengurangi kuota ekspor ke Indonesia, apa yang akan terjadi? Padahal, kebutuhan nasional yang belum terpenuhi masih sekitar 50 ribu ton lebih.

Ternyata, perebutan kuota impor daging sapi ini ada relevansinya dengan rencana pengunduran diri Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan drh. Prabowo Respatiyo Caturroso dari kursi jabatannya. Mengapa ‘kursi basah’ ini dilepas? Mengutip berita di Tempo, Prabowo tidak kuat menghadapi tekanan dari para juragan sapi impor. Maklum, margin profit dari bisnis ini memang sangat menggoda. Seorang importir membeli daging sapi impor rata-rata Rp 40 ribu/kg. Padahal, harga jual eceran di pasaran bisa mencapai Rp 60-70 ribu/kg. Wow? Pantas saja para juragan sapi impor (tercatat sekitar 55 importir, red) mati-matian nyanggong Prabowo untuk mendapatkan surat ijin mengimpor.

Pengakuan yang sangat mencengangkan adalah keterlibatan politisi senior dari PKS. Masih menurut Tempo, adalah Ustadz Hilmi Aminuddin dan Soeripto yang menjadi ‘penguasa’ di bidang sapi impor. Keduanya adalah ketua dan anggota Majelis Syuro PKS. Tak heran jika kemudian muncul istilah ‘daging berjanggut’ untuk menyebut dominasi politisi dari ‘partai putih’ di bidang yang satu ini. Kabarnya, ‘jasa pengawalan’ program pemerintah ini mendapat imbalan yang lumayan. Yakni 1-3 ribu/kg.

Berita yang diturunkan Tempo (majalah Tempo edisi 6-12 Juni maupun Tempointeraktif.com) tentu saja harus diklarifikasi kebenarannya. Meski sebelum menurunkan berita ini, media massa sekelas Tempo pasti sudah melakukan verifikasi data. Jika memang tudingan ini hanyalah gosip belaka, maka pihak-pihak yang dirugikan sudah sepantasnya menggunakan hak jawab. Kalau perlu mengajukan gugatan kepada redaksi Tempo.

Begitu juga sebaliknya. Kalau ternyata Soeripto dan Ustadz Hilmi Aminuddin tidak merespon, jangan salahkan jika publik mengimani data-data yang dilansir majalah tersebut. Dan apabila ini yang terjadi, maka setidaknya ada 2 catatan penting. Pertama, mudah-mudahan informasi awal ini bisa dijadikan sebagai stimulan bagi aparat penyidik. Entah itu dari kepolisian maupun dari KPK. Dengan harapan skandal daging berjanggut ini bisa dibuktikan di mata hukum.

Yang kedua, kasus ini diharapkan mampu menggugah kesadaran politik masyarakat akan pentingnya sikap kritis dalam berpolitik. Bahwa ternyata, harapan dan kepercayaan publik kepada partai yang selama ini memposisikan diri sebagai ‘partai putih’ harus dibarengi dengan kontrol yang ketat dan terus menerus. Padahal, harapan dan kepercayaan publik kepada partai berbasis Islam ini masih relatif tinggi. Hal ini setidaknya terlihat pada perolehan suara PKS yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Mudah-mudahan kekecewaan publik tidak berakibat pada matinya harapan tentang adanya Indonesia Baru yang lebih bermartabat.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Juni 2011 in Politik

 

Tag: , , , , , , , , , ,

One response to “Petingginya Keblinger Sapi (PKS)

  1. Gus Lege

    16 Juni 2011 at 11:07 pm

    Sayang sekali….tulisan sebagus ini kok pengirimnya anonim?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: