RSS

Perang Telik Sandi

16 Feb

Saya mendiskusikan dengan Duta Besar Amerika Serikat tentang pertanyaan yang tertera pada No: 67786/65. Pada dasarnya Duta Besar setuju dengan posisi kita, tetapi meminta waktu untuk menyelidiki aspek-aspek tertentu dari masalah ini.

Menjawab pertanyaan saya tentang kemungkinan pengaruh kunjungan Bunker ke Jakarta, Duta Besar tidak melihat alasan untuk mengubah rencana bersama kita. Sebaliknya, kunjungan utusan pribadi Presiden Amerika Serikat akan memberi kita lebih banyak waktu untuk mempersiapkan operasi yang sangat detail. Duta Besar merasa bahwa diperlukan langkah-langkah lebih lanjut untuk membawa usaha kita menjadi lebih selaras. Dalam hubungan ini, ia mengatakan bahwa akan berguna [bagi kita] untuk memberitahukan lagi kepada sahabat tentara lokal kita bahwa disiplin dan koordinasi tindakan sangat penting bagi keberhasilan rencana kita.

Saya berjanji untuk mengambil semua langkah yang diperlukan. Saya akan melaporkan pandangan pribadi saya pada waktunya nanti.

Itulah isi dari Dokumen Gilchrist yang sempat membuat geger jagat politik nasional di era tahun 1965. Dokumen tersebut – konon – merupakan telegram dari duta besar Inggris di Jakarta Andrew Gilchrist yang ditujukan kepada Kementerian Luar Negeri Inggris. Inti dari dokumen itu mengindikasikan keterlibatan AS-Inggris dalam penggulingan Soekarno sebagai Presiden RI pertama. Meski kemudian langsung dibantah oleh pemerintah AS, dokumen yang dibocorkan Menteri Luar Negeri RI Soebandrio itu seolah menegaskan kembali adanya intervensi asing dalam bentuk operasi intelijen terhadap dinamika politik di negeri ini.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk membuka kembali catatan sejarah dengan menyoroti keaslian Dokumen Gilchrist. Tapi tulisan ini lebih menekankan pada sebuah upaya untuk selalu mewaspadai adanya perang intelijen melalui serangkaian operasi rahasia yang sangat tidak kentara di permukaan sehingga sulit dibuktikan. Fenomena itu seolah menyampaikan pesan kepada kita semua, bahwa campur tangan asing tidak akan pernah surut di mana pun dan kapan pun. Tidak terkecuali Indonesia di masa sekarang.

Agen AS di Kabinet SBY

Masih ingat kontroversi Wikileaks yang merilis bocoran kawat berita dari pos Kedutaan Besar AS di Indonesia menjelang akhir tahun 2011 ? Untuk kesekian kalinya, Wikileaks ‘sukses’ mencuri dokumen rahasia dan melontarkannya sebagai bahan konsumsi publik. Kali ini, Wikileaks membocorkan kawat berita tertanggal 23 Oktober 2009. Isi dokumen itu adalah laporan penilaian Duta Besar AS untuk RI Cameron Hume kepada tuannya (AS) tentang orang-orang di kabinet pemerintahan SBY.

Wikileaks merilis, Hume melaporkan kepada Washington sejumlah nama di kabinet SBY yang sangat potensial untuk menjadi kaki tangan AS. Di antaranya Sri Mulyani Indrawati, Mari Elka Pangestu dan MS Hidayat yang mendapat sambutan baik para pengusaha AS. Begitu pula penunjukan Dr Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menteri Kesehatan yang sangat sesuai dengan keinginan AS karena sangat dekat dengan USAID.

Masih menurut Wikileaks, Menteri Koordinato Bidang Politik, Hukum dan Keamanan yang diisi Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto juga merupakan pejabat militer yang sangat disukai AS. Djoko Suyanto merupakan alaumni pelatihan USAF Fighter Weapon Instructor School di Pangkalan Udara Nellis. Hume menilai, Djoko Suyanto yang merupakan perwira AU pertama yang menjabat Panglima TNI itu merupakan tokoh kunci yang harus dipegang.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro juga mendapat apresiasi positif dari AS. Dalam surat kawatnya, Hume menyebut Purnomo Yusgiantoro sudah lama bekerja sama dengan AS. Terutama dalam kontraterorisme, energi, serta di bidang strategis lainnya. Yang paling disuka adalah Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. Inilah satu-satunya menteri yang mendapat perlakuan khusus dari AS. Hume meminta secara khusus agar AS melalui Menlu-nya Hillary Clinton memberikan ucapan selamat.

Berdasarkan penggambaran itulah, Hume sangat optimis dengan pemerintahan SBY dalam konteks menjaga kerja sama dengan AS. Ia menulis, “Sekutu yang menjanjikan untuk kemitraan komprehensif dalam kabinet baru Indonesia”.

Pertanyaannya sekarang, apakah kawat berita yang dibocorkan Wikileaks tersebut merupakan dokumen rahasia yang bisa dipertanggungjawabkan keasliannya? Siapa sebenarnya Wikileaks? Apa tujuan Wikileaks membocorkan informasi itu mengingat Indonesia bukan satu-satunya negara tujuan.

Wikileaks

Nama besar Wikileaks tak bisa dipisahkan dari Julian Paul Assange. Siapa dia? Pria kelahiran Australia 3 Juli 1971 ini belakangan memang sering disebut sebagai Bos Wikileaks. Julian Assange adalah seorang peretas (hacker) yang sangat populer di kalangan dunia pembobol internet. Dia adalah seorang mahasiswa matematika dan fisika yang juga seorang programmer komputer.

Semasa kecilnya, Julian Assange harus berpindah-pindah tempat tinggal. Otomatis sekolahnya pun harus berpindah mengikuti tempat tinggalnya. Bahkan sebelum usia 14 tahun, ia mengaku sudah 37 kali pindah sekolah. Bahkan, hacker dengan nickname “Mendax” itu lebih sering memilih sekolah di rumah. Ketertarikannya pada dunia hacker sudah dimulai sejak usia muda. Pada tahun 1987, Julian Assange yang masih berusia 16 tahun itu mendirikan International Subversives bersama 2 orang temannya.

Uniknya, Julian Assange menjadi hacker bukan untuk merusak program. Ia lebih tertarik menjadi hacker pencuri data yang kemudian disebarkan ke publik. Kiprahnya dalam dunia hacker berujung pada penangkapan atas dirinya pada tahun 1991 dengan 24 dakwaan. Pada tahun yang sama, dia dilepaskan karena membayar jaminan senilai AU$ 2100.

Penangkapan atas dirinya tak membuat Julian Assange jera. Bahkan sebaliknya. Bersama 9 orang temannya, pada tahun 2006 lalu dia mendirikan Wikileaks. Awalnya, lembaga ini bertujuan melancarkan serangan balasan kepada sejumlah perusahaan atau negara yang dianggap bertindak tidak etis. Wikileaks juga concern membidik korupsi di lembaga-lembaga publik.

Kini, Wikileaks menjadi sebuah organisasi internasional yang bermarkas di Swedia. Situs Wikileaks menerbitkan dokumen-dokumen rahasia sambil menjaga kerahasiaan sumber-sumbernya. Perusahaan ini merekrut politisi, jurnalis, perwira militer, programmer serta beberapa profesi strategis lainnya.

Sampai saat ini, Wikileaks mengkalim telah mengantongi 251.287 dokumen rahasia. Dan, baru 300 dokumen yang sudah dirilis ke publik. Khusus menyangkut Indonesia, Wikileaks mengklaim ada 3.059 kawat diplomatik dari Dubes AS untuk Indonesia. Dokumen aman alias tak rahasia jumlahnya ada 1.510 buah. Sisanya adalah dokumen rahasia, dengan kategori “confidential” 1.451 buah dan kategori “secret” ada 98 buah. Sejauh ini, dokumen yang menyebut Indonesia barulah yang “menyerempet” saja.

Title #0

Bunker anti nuklir Bahnhof sebagai tempat penyimpanan server Wikileaks di Swedia

Kemunculan Wikileaks tentu saja mendapat sambutan hangat dari kalangan media. Setiap rilisnya selalu ditunggu-tunggu. Tak heran jika setiap Wikileaks membuat rilis, panggung politik selalu bergetar. Berita-berita seksi pun bertaburan. Misalnya saja soal AS yang menitipkan nuklir di negeri Belanda, permintaan Raja Arab Saudi untuk menyerang Iran, atau Presiden RI yang melindungi Taufik Kiemas dalam kasus korupsi di sejumlah megaproyek. Menlu AS Hillary Clinton juga pernah dibuat kebakaran jenggot.

Berlawanan dengan respon positif dari para jurnalis, Wikileaks menjadi sasaran kemarahan sejumlah pejabat dari berbagai negara.  Julian Assange sendiri mengakui bahwa server Wikileaks tak luput dari incaran. “Serangan DDOS (Distributed Denial Of Service) kini melebihi 10 gigabyte perdetik,” kata Julian dalam akun twitternya. Demi mengamankan data-datanya, WikiLeaks menggunakan sejumlah server sebagai penunjang kapasitas bagi ratusan ribu dokumen. Salah satunya adalah Bahnhof, perusahaan server dan hosting internet di Swedia. Lokasi server Bahnhof tergolong unik, yaitu di suatu bunker anti-nuklir warisan Perang Dingin.

Title #1

Sikap sinis juga ditunjukkan dari sejumlah kalangan. Situs eramuslim.com misalnya, jelas-jelas menuding Wikileaks sebagai bagian dari konspirasi yang dilancarkan Mosad (lembaga intelijen Israel yang paling disegani). Analisis lengkapnya, silakan baca http://www.eramuslim.com/berita/analisa/wikileaks-israel-koneksi.htm#.UR5Xxx2j3cw.

“Konspirasi” dan “Intelijen” adalah dua kajian yang tidak pernah sepi sepanjang sejarah. Sama halnya dengan membicarakan hantu. Setiap orang bisa saja mengatakan bahwa “ada hantu”. Tapi yang betul-betul bisa membuktikan hanyalah orang-orang tertentu yang bisa melihat dimensi lain. Begitu juga halnya dengan konspirasi dan intelijen. Siapa saja bisa dicap sebagai intelijen atau setidaknya ‘agen asing’. Lalu, siapa sebenarnya yang betul-betul agen? Beberapa menteri di Kabinet SBY, sejumlah pejabat militer kita, Wikileaks atau jangan-jangan saya sendiri? Hahahaaaaaaaa………Yang pasti, jadilah orang-orang kritis !!! Ingat petuah Sun Tzu dalam The Art of War : “berpura2 menyerang dari timur, tapi seranglah dari barat”.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Februari 2013 in intelejen

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: