RSS

Meraih Sukses Tanpa Kompetisi

09 Feb

 

Kompetisi“Cobalah mandi tengah malam dengan niat mensucikan diri. Setelah itu, lakukan sholat malam disambung dengan dzikir. Keesokan harinya, berangkatlah ke tempat usaha dengan niat ibadah. Niat untuk mencari nafkah guna menghidupi keluarga. Jauhkan pikiran dari keserakahan dan segala bentuk persaingan bisnis. Jangan menoleh kanan kiri. Tetaplah fokus untuk bekerja dengan niat ibadah semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang sudah Allah berikan”.

Begitulah petunjuk yang disampaikan seorang kerabat yang sudah lama menempuh jalan kesufian. Wejangan itu diberikan setelah penulis berkeluh kesah tentang masalah yang dialaminya dalam bisnis. Ketika itu, bisnis yang digeluti penulis sedang dalam kondisi terpuruk. Keuntungan bisnis yang terus merosot akibat ketatnya persaingan, diperparah dengan banyaknya kejadian aneh (mistis) di lokasi tempat usaha. Bahkan penulis sempat terperosok ke dalam ‘perang gaib’ yang memang terlihat sangat nyata.

Sekedar informasi, penulis memiliki stan kecil berukuran 3×3 m di sebuah mall yang hampir 90% stannya menjual produk yang sama. Untuk produk tersebut, mall ini merupakan terbesar kedua di Kota Surabaya. Bisa dibayangkan betapa ketatnya persaingan di sana. Sebab selain jumlah stannya mencapai ratusan, para ‘pemain’nya pun banyak yang kelas ‘gajah’.

Keesokan harinya, berbekal wejangan dari kerabat tersebut, penulis berangkat menuju tempat kerja. Bismillaahirrahmaanirrahiim….semoga sukses !!!

Hari pertama, sungguh di luar dugaan. Entah kebetulan atau karena efek dari nglakoni apa yang telah disarankan. Yang jelas, pada hari itu penjualan mengalami peningkatan. Otomatis, keuntungan bisnis pun ikut naik. Tapi penulis meyakini, bahwa hasil penjualan hari itu karena memang efek dari ‘ritual’ seperti yang disarankan.

Malam hari sepulang kerja, penulis berkeinginan untuk melakukan hal yang sama. Menjalankan qiyamul lail lalu dilanjutkan dengan dzikir. Sayangnya, penulis tidak mampu mengidentifikasi, bahwa qiyamul lail dan dzikir itu motivasinya karena sebagai bentuk rasa syukur atau malah justru bentuk ketamakan karena ingin hasil yang lebih besar lagi.

Pada hari kedua, hasilnya sungguh menggembirakan. Lebih baik dari hari pertama. Begitu pula hari ketiga, lebih baik dari hari kedua. Tiga hari berturut-turut digerojok rejeki. Saatnya setan beraksi.

“Bisnis loe hebat. Dlm 3 hari loe bisa meraup untung banyak. Padahal tetanggamu pada sepi pembeli tuh. Besok loe liat deh,” begitulah bisikan halus yang terdengar sayup-sayup. Dan ternyata, penulis akhirnya keblinger juga. Malam keempat mulai ayas-ayasen bangun tengah malam untuk qiyamul lail.

Setan memang hebat. Besoknya di hari keempat, dalam hati tetap berharap toko bakal ramai. Bahkan kalau bisa lebih ramai dari sebelumnya. Anehnya, di hari keempat itu ada keinginan kuat untuk melirik toko tetangga. Mata mulai celingak-celinguk. Awalnya hanya ingin membuktikan bisikan setan bahwa toko tetangga sepi. Lama-kelamaan melonjak. Setiap ada pengunjung yang mampir ke toko tetangga, hati ini rasanya ‘mak sirrrr’. Apalagi kalau sampai deal alias terjadi transaksi, kepala bisa mendadak terserang vertigo atau paling tidak sesak nafas. Walhasil, perolehan hari itu pun turun sangat drastis.

Seiring perjalanan waktu, pelan-pelan Gusti Allah tunjukkan jalan. Pintu ilmu terbuka satu, khususnya bab tentang rejeki. Berawal dari kebiasaan kongkow bersama sejumlah pemilik toko. Awalnya memang agak canggung. Belum ada kesamaan frekuensi. Bahkan cenderung seperti sedang berunding dengan lawan. Pasang kuda-kuda dan saling menebar kamuflase agar dapur bisnis kita tidak terbaca. Tapi lama-lama, sikap itu terkikis suasana keakraban yang terbangun ketika kongkow bersama. Dari yang semula seperti lawan, berubah menjadi kawan. Dari yang semula saling menutupi berbalik menjadi saling support.

Terus terang, pada fase inilah proses pembelajaran yang sangat berharga. Terutama dalam hal menekan sifat serakah di dalam hati. Bahwa rejeki memang sudah ada yang mengatur. Bahwa kompetisi yang benar bukanlah sebuah upaya untuk menjatuhkan pesaing. Kompetisi bukan bertujuan menciptakan suasana ‘gue rame, loe sepi’. Dan anehnya, ketika kesadaran seperti itu sudah tumbuh di dalam hati, pintu rejeki menjadi terbuka sedikit lebar. Hal itu juga dirasakan para pemilik toko lain.

Wejangan seorang sufi muda yang pernah penulis terapkan, tiba-tiba terngiang kembali. Bersihkan hati dari sifat serakah, jauhkan pikiran dari kompetisi. Ketika kita berpikir untuk berkompetisi dalam arti saling mengalahkan, bukankah sebenarnya kita sedang merendahkan Gusti Allah? Seolah-olah Gusti Allah itu miskin sehingga rejeki dari-Nya harus kita perebutkan bahkan dengan cara-cara yang kotor.

Pengalaman hidup ini mengajarkan kepada penulis tentang beberapa hal. Pertama, bahwa Allah itu benar-benar Maha Kaya. Jangankan untuk memberi rejeki ratusan toko, bahkan miliaran toko pun kekayaan Allah tidak akan habis dibagi. Kedua, yakinlah bahwa rejeki itu sudah diatur. Dengan bekal keyakinan ini, maka tidak perlu lagi melirik kanan kiri untuk membanding-bandingkan rejeki yang kita peroleh dengan orang lain. Ketiga, tidak ada kamus kompetisi dalam bisnis jika benar-benar ingin memperoleh kesuksesan. Yang ada adalah kerja keras maksimal sesuai potensi yang telah Allah berikan kepada kita. Tetaplah fokus ke depan untuk terus bekerja maksimal. Jika ingin meningkatkan derajat kemuliaan kita, doakan pula orang lain bisa sukses. Sekalipun orang itu bisnisnya sama dengan kita. Setidaknya jangan pernah terlintas dalam hati keinginan terciptanya kondisi ‘gue rame, loe sepi’. Jika kita bisa memegang teguh ketiganya, insya Allah hati kita akan tenang. Dan bisnis yang kita jalani bisa menjadi sarana kita untuk bisa mencapai derajat yang mulia di mata Allah. Allahumma amin…..

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2015 in Bisnis

 

Tag:

One response to “Meraih Sukses Tanpa Kompetisi

  1. dominicafe

    2 Juli 2016 at 7:12 am

    Seru pengalamannya mas, sangat mengispirasi… Mudah-mudahan saya bisa menerapkannya..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: