RSS

Wali Paidi (seri 11)

01 Jul

Kaligrafi SyeikhAnak buah Gohell yg berjumlah tujuh orang ini lebih heran lagi melihat pemimpin mereka terduduk dan menangis tersedu-sedu di hadapan Wali Paidi. Tanpa dikomando mereka mendekati pimpinan mereka dan membuat pagar betis melingkari Wali Paidi dan Gohell. Mereka berdiri melingkar menutupi mereka supaya orang – orang tidak tahu kalau pimpinan mereka menangis, mereka malu kalau orang-orang melihat pimpinan mereka menangis. Masak pimpinan preman kok nangis…(he..he..he..)

Wali Paidi menepuk nepuk pundak Gohell, dan menariknya untuk berdiri lalu berkata, “Udah mas, aku sama sampeyan ini masih saudara jadi gak usah sungkan”.


Gohell berdiri dan mengusap air matanya, kemudian merangkul Wali Paidi. “Makasih…mas,” ucap Gohell kpd Wali Paidi.

Mereka lalu bersalaman di ikuti seluruh anak buah. Gohell juga bersalaman kepada Wali Paidi. Suasana menjadi cair kembali. Tidak lama kemudian suasana jadi akrab, seakan Wali Paidi dan gerombolan gohell ini adalah teman yg sudah lama kenal, karena Wali Paidi ini pintar mengeluarkan joke-joke segar yg membuat Gohell dan anak buahnya tertawa terpingkal-pingkal.

“Ayo ngopi dulu mas,” ajak Gohell kpd Wali Paidi.

“Monggo,” jawab Wali Paidi.

Mereka berdua dan seluruh anak buah Gohell menuju ke warung di pinggir jalan. Setelah mengambil tempat duduk, mereka memesan kopi. Anak buah Gohell menunggu di luar warung.

“Mas, kalo bisa sampeyan berhenti malak orang. Kasihan gurumu mas,” ucap Wali Paidi.

“Iya mas. Saya akan berusaha mencari kerja yg bener. Do’akan aja,” sahut Gohell.

“Jangan sampai perguruan sampeyan Setia Hati (SH) itu menjadi singkatan Perguruan Sakit Hati. Gunakan kepandaian silatmu itu sebagai senam untuk kesehatan. Itu yg cocok untuk jaman sekarang ini. Beda dengan jaman ketika orang Islam masih punya musuh dulu. Jangan belajar silat untuk mencari kesaktian atau untuk perisai diri. Karena perisai diri yg lansung dari Allah adalah shodaqoh. Belajarlah silat hanya untuk kesehatan, maka kamu tidak akan mencari musuh atau dicari musuh,” tutur Wali Paidi.

Sambil nyeruput kopinya, Wali Paidi berkata lagi kepada Gohell, “Kalo belajar silat untuk mencari kesaktian atau kekuatan jadinya ya seperti ini. Sesama saudara seperguruan tawur. Tidak rela melihat perguruan lain unjuk kekuatan. Seperti kemarin terjadi penyerbuan terhadap konvoi perguruan kera sakti yg diduga dilakukan oleh perguruan Setia Hati”.

“Iya mas. Memang aku dulu belajar ilmu silat untuk mencari kesaktian. Setelah lulus aku bingung gimana cara melihat kalau aku ini sudah kuat. Akhirnya aku mencari gara-gara supaya punya musuh dan keterusan sampai jadi seperti sekarang ini,” Gohell menceritakan masa lalunya sambil menunduk.

Setelah ngobrol-ngobrol yg cukup lama, Gohell akhirnya terbuka hatinya. Mengerti tentang apa arti hidup ini. Mengerti bahwa manusia itu tinggal menjalankan peran dari Allah. Mengerti akan dirinya berperan sebagai apa dan menjalankan sebaik-baiknya peran trsebut. Ada yg berperan sebagai ulama, guru, pedagang, petani dll. Hanya ketaqwaan kepada Allah yg dinilai dari menjalankan peran tersebut.

“Terus sampeyan sekarang mau kemana,” tanya Gohell kepada Wali Paidi.

“Mau ke terminal,” jawab Wali Paidi singkat.

“Hehehe…maksudku tujuan sampeyan dari terminal,” Tanya Gohell lagi.

“Mau sowan kepada salah satu guruku,” jawab Wali Paidi.

“Kalau begitu mari saya antar,” Gohell menawari Wali Paidi.

“ Baiklah, ayo,” ucap Wali Paidi.

Gohell mendekati pemilik warung dan menanyakan habis berapa semuanya. Pemilik warung terdiam merasa heran dengan sikap Gohell, karena biasanya kalau makan minum di warungnya tidak pernah bayar. Pemilik warung tersebut sangat gembira dengan perubahan sikap Gohell.

Udah gak usah bayar Mas. Anggap saja ini sebagai selamatan buat Mas. Selamatan kalau sampeyan telah terlahir kembali. Mudah-mudahan tobat sampeyan ini sebagai taubatan nasuha,” ucap pemilik warung kepada Gohell.

Setelah mengucapkan terimakasih, Gohell mengantarkan Wali Paidi ke terminal. Dalam perjalanan, Gohell menanyakan perihal tentang orang–orang sholeh yg di ketahui Wali Paidi. Wali Paidi menceritakan dg singkat perihal mereka. Tentang sifat dan kelebihan orang-orang sholeh tersebut. Tidak begitu lama akhirnya mereka sampai ke terminal. Gohell memanggil salah satu anak buahnya dan membisikkan sesuatu kepadanya. Lalu anak buahnya itu pergi.

“Jangan berangkat dulu Mas. Tunggu sebentar,” kata Gohell kepada Wali Paidi.

Tidak begitu lama anak buah Gohell datang sambil menyerahkan sesuatu. Lalu Gohell mendekati Wali Paidi dan menyerahkan sesuatu itu kepada Wali Paidi. “Ini Mas tolong jangan ditolak,” kata Gohell kepada Wali Paidi.

Ternyata sesuatu tersebut di dalamnya ada uang ribuan yg sebagian sudah kumal, dan ada 2 atau 3 uang lima ribuan. Wali Paidi terkejut ketika menerima uang daari Gohell tersebut. “Jangan kuatir Mas. Itu bukan uang haram. Itu uang sumbangan dari teman-teman. Dan saya minta dengan sangat jangan ditolak,” jelas Gohell.

Wali Paidi menerima pemberian Gohell tersebut. Setelah bersalaman Wali Paidi naik ke atas bus. Masih banyak bangku kosong. Wali Paidi mencari tempat yg enak buat duduk, akhirnya Wali Paidi memilih tempat di tengah. Setelah bus baru berjalan, tampak pedagang rokok naik ke atas bus menjajakan dagangannya. Ketika Wali Paidi hendak memanggilnya, si pedagang tersebut sudah menghampiri Wali Paidi dan menyerahkan sebungkus rokok Dji Sam Soe dan berkata, “Ini pemberian dari Mas Gohell sebagai rasa terima kasih”.

Begitu juga dengan pedagang-pedagang yg lain. Selama perjalanan, mereka semua memberikan satu barang dagangannya kepada Wali Paidi atas nama Gohell. Mulai penjual minuman sampai penjual kacang. Bahkan penjual bollpoint dua ribu dapat 3 juga memberikan dagangannya atas nama dan rasa terima kasih Gohell kepada Wali Paidi. Ketika Wali Paidi mau membayar karcis bus, pak kondektur juga membebaskan Wali Paidi atas nama Gohell juga. Wali Paidi hanya geleng-geleng kepala.

Sangar tenan preman iki,” batin Wali Paidi tersenyum sambil teringat wajah premana jalanan yang baru saja mendapat hidayah itu.

Wali Paidi akhirnya sampai di sebuah kota yg dulunya adalah sebuah wilayah kerajaan Majapahit. Wali Paidi turun sambil membawa satu kresek besar yg berisi minuman dan makanan ringan pemberian dari pedagang-pedagang asongan di atas bus. Baru melangkah turun dari bus, Wali Paidi lansung dihampiri seorang gila yang berambut gimbal. Orang gila tersebut langsung menarik–narik tas kresek Wali Paidi.

“Di…Paidi! Sini minuman dan makanan ini punyaku,” teriak orang gila itu lalu ngeloyor pergi.

Wali Paidi membiarkan saja tas kreseknya direbut. Dan dia hanya terus mengikuti orang gila tersebut karena penasaran dari mana dia tahu namanya.

 

Bersambung…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Juli 2015 in Tasawuf

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: