RSS

Wali Paidi (seri 12)

01 Jul

Kaligrafi SyeikhTerlihat di sudut terminal orang gila ini tertawa-tawa menikmati makanan dan minuman hasil rampasannya, Wali Paidi berjalanperlahan mendekati orang gila tersebut. Wali Paidi mendekat ke orang gila hingga berjarak sekitar 10 meteran. Sambil menyantap makanan dan minuman, orang gila tersebut berkata, “Gak usah heran Di. Orang yg dekat dengan Tuhannya, apa yg tidak di ketahui di muka bumi ini. Yg diketahui Gusti Allah juga diketahui oleh para kekasihnya. Apalagi namamu terkenal di langit sana. Namamu seringkali muncul karena seringnya kamu usul kepada Gusti Allah”.

Dengan masih memegang minuman Sprite kaleng, orang gila tersebut berkata lagi, “Para malaikat sering berkata, Gusti, Wali Paidi usul begini. Gusti, Wali Paidi minta begini. Hampir semua malaikat mengenalmu, karena seringnya kamu minta dan usul ke gusti Allah. Seharusnya kamu malu Di, minta-minta terus seperti pengemis. Hehehe…”.

Wali Paidi terdiam. Dia merasa seperti ditelanjangi. Wali Paidi menghampiri orang gila tersebut dan mencium tangannya. Ketika Wali Paidi memegang tangannya, Wali Paidi kaget karena tangan orang gila ini bagaikan tidak ada tulangnya. Terasa halus, begitu lembut dan berbau sangat wangi. Ketika Wali Paidi mau menanyakan namanya, orang gila ini mendahului berkata, “Kamu gak usah tahu namaku. Udah sana. Kamu sowan ke kyaimu sana. Nanti kita bertemu di sana. Dan kalau kamu melihat kyaimu sedang ada tamu agung, kamu sebaiknya langsung pamit aja”.

Wali Paidi cuma mengangguk terdiam. Setelah mengucapkan salam, Wali Paidi pergi dari situ dan berangkat untuk sowan ke kyainya. Wali Paidi melanjutkan perjalanan dengan naik becak.

Setelah sampai, Wali Paidi langsung menuju ke ruang tamu. Di sana dia disambut salah satu santri kyai yg selalu standbay melayani tamu– tamu. Belum lama duduk, ada dua tamu yg juga mau sowan ke kyai. Mereka berdua duduk di samping Wali Paidi. Tidak seperti biasanya, kali ini kyai tidak langsung menemui mereka bertiga. Wali Paidi dan kedua tamu menunggu sekitar satu jam lebih. Wali Paidi dan kedua tamu langsung bersalaman dengan kyai. Mereka bertiga mencium tangan kyai dengan penuh ta’dzim. Yg sangat berbeda, sikap Wali Paidi terhadap kyai ini. Wali Paidi tampak sangat ta’dzim berhadapan dengan kyai. Wali Paidi hanya bisa menunduk, dan tampak butiran-butiran air mata mulai membasahi pipinya. Setelah kyai baru saja duduk, Wali Paidi maju bersalaman lagi dan mohon pamit. Kyai hanya tersenyum dan merestui Wali Paidi.

“Iya Di, salam aja ke dulur-dulur semua,“ pesan kyai.

“Inggih Kyai,” jawab Wali Paidi dengan masih menunduk.

Kedua tamu ini heran melihat sikap Wali Paidi. Mereka menunggu begitu lama. Tapi setelah kyai keluar, Wali Paidi kok lansung mohon pamit. Satu di antara dua tamu ini penasaran dan menanyakan hal tersebut kepada kyai. “Kyai, mas tadi itu menunggu Panjenengan dengan kami begitu lama. Tapi setelah kyai datang, mas tadi lansung mohon pamit. Ada apa gerangan kyai,” tanya tamu itu.

“Hmm…..gimana yah. Kamu langsung aja ke orangnya dan tanyakan hal itu. Dia belum pergi jauh, sekarang dia masih duduk-duduk di pagar jembatan,” jawab kyai.

Setelah mohon ijin dan keluar sebentar, tamu tadi mencari Wali Paidi. Dan benar apa yg dikatakan kyai, Wali Paidi masih duduk di pinggir jembatan.

“Assalaamu’alaikum…,” sapa tamu itu kepada Wali Paidi.

“Wa’alaikum salam,” jawab Wali Paidi.

“Maaf Mas. Saya penasaran dengan sikap sampeyan tadi. Kok lansung mohon pamit ketika baru ketemu kyai. Emangnya kenapa,” tanya tamu dg penasaran.

“Hmm…gimana tidak lansung mohon pamit Kang. Lha wong di samping kanan kyai ada Baginda Rosul. Dan di samping kiri kyai ada Nabiyullah Hidzir. Apa yg mau saya omongkan kalau mereka berdua hadir di samping kanan dan kiri kyai. Dan saya merasa tidak pantas berlama2 di depan beliau2 itu,” jawab Wali Paidi dengan mata yg berkaca-kaca.

“Ohhh……..,” ganti si tamu jadi heran dan melongo.

 

Bersambung…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Juli 2015 in Tasawuf

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: