RSS

Wali Paidi (seri 13)

01 Jul

Kaligrafi SyeikhSehabis tahlil bersama dalam rangka memperingati Haul Gus Dur ke 2, Wali Paidi ngopi bareng sama warga. Mereka saling berkelompok tiga sampai empat orang membicarakan dan mengenang Gus Dur diselingi adu argumen mengenai apa rahasia di balik sepak terjang Gus Dur di masa lalu.

Wali Paidi tersenyum-senyum meihat tingkah laku mereka. Wali Paidi sendiri duduk-duduk bersama empat orang dengan satu cangkir kopi besar berada di tengah. Mereka berlima joinan bersama. Indah dan rukun sekali.

Paijo, tetangga Wali Paidi mulai membuka pembicaraan dengan bertanya kepada Wali Paidi. “Kang, menurut sampeyan gimana Gus Dur selama jadi presiden yg cuma sebentar itu,” tanya Paijo.

“Sebelum kita membahas tentang itu semua, alangkah baiknya kita tengok dulu sebelum Gus Dur jadi presiden,” jawab Wali Paidi.

“Wah…sip iki Kang. Gimana ceritanya,” kata teman-teman yg lain.

Dulu, kata Wali Paidi, ada seorang kyai di daerah Blitar. Namanya Kyai Rohimi. Beliau ini ahli istikhoroh. Banyak sekali kyai yg sowan kepada Kyai Rohimi guna menanyakan apa makna isyarah yg diterima. Dan Kyai Rohimi ini bisa menafsiri isyarah2 yg ditanyakan kepadanya. Dan semuanya tidak pernah meleset. Hampir 100 persen mendekati benar.

Kehidupan sehari-hari beliau adalah sebagai petani desa yg sangat sederhana. Tiap pagi beliau diantar cucunya pergi ke sawah dengan naik sepeda onthel. Biasanya para tamu yg mau sowan, menunggu di depan ndalem menunggu beliau pulang. Dan di dalam rumah yg berdinding kayu jati itulah Kyai Rohimi menerima para tamunya. Di dalam rumah Kyai Rohimi ada sebuah kamar khusus yg disediakan untuk Gus Dur kalau berkunjung ke situ dan menginap.

Gus Dur sebelum jadi presiden telah banyak menerima isyaroh2. Dan menanyakan kepada Kyai Rohimi apa makna isyaroh2 yg dia terima.

Kang, Kyai Rohimi ini tingkatannya lebih tinggi dari Gus Dur ya, sampai Gus Dur sendiri minta tolong untuk menafsiri isyaroh yg beliau terima,” tanya Paijo kepada Wali Paidi.

“Tidak mesti begitu. Kamu tahu Pak Ridwan tetangga kita, yang jadi dosen di salah satu universitas terkenal itu? Ketika ban mobilnya bocor, apa Pak Ridwan menambal ban mobilnya sendiri,” tanya Wali Paidi.

“Ya tidak Kang. Pak Ridwan jelas gak bisa. Ban itu akan ditambalkan ke tukang tambal ban,” jawab Paijo.

“Lalu…apa berarti tingkatane tukang tambal ban itu lebih tinggi dari Pak Ridwan yg dosen itu,” tanya Wali Paidi.

“Ya nggak sih,“ jawab Paijo mulai mengerti.

“Begitulah apa yg terjadi di antara Gus Dur dan Kyai Rohimi ini tidak bisa jadi acuan siapa lebih tinggi tingkatannya,” jelas Wali Paidi.

Wali Paidi menyedot Dji Sam Soe-nya dan nyeruput kopi sedikit, lalu melanjutkan ceritanya. “Sampeyan akan jadi orang nomor satu di Indonesia. Tapi hanya sebentar ,” kata Wali Paidi menirukan jawaban Kyai Rohimi kepada Gus Dur.

“Berapa lama Kyai,” tanya Gus Dur.

“Tidak sampai tiga tahun,” jawab Kyai Rohimi.

“Tugas yang sangat berat,” ucap Gus Dur tanpa memperdulikan lama jabatannya.

“Iya…ini memang tugas yg sangat berat Gus. Dan sampeyan akan diturunkan oleh rakyat sampeyan sendiri,” kata Kyai Rohimi.

“Kalau ini memang tugas, biarpun sebentar tidak apa-apa. Yg penting bermanfaat,” jawab Gus Dur.

Gus dur menerima dengan lapang dada isyaroh yg diterimanya dari Kyai Rohimi. Beliau tidak peduli walaupun dalam kepemimpinannya kelak , beliau direcoki dan akhirnya diturunkan dengan tidak terhormat. Gus Dur berprinsip biarlah orang memusuhinya asal Allah menyayanginya. Biarlah orang menghinanya asal Allah ridlo kepadanya.

Beberapa bulan kemudian ganti para kyai sepuh yg mendapatkan isyaroh dari Allah mengenai Gus Dur. Para kyai tidak mau gegabah dengan menafsiri sendiri isyaroh yg diterima oleh mereka. Para kyai sepuh sowan ke Kyai Rohimi menanyakan apa arti isyaroh yg mereka terima. Memang, nama Kyai Rohimi di kalangan para kyai2 NU sangat dikenal. Karena dalam menafsiri isyaroh, Kyai Rohimi ini jagonya.

Setelah mendapat penjelasan dari Kyai Rohimi, para kyai sepuh menyampaikannya kepada Gus Dur. Dan Gus Dur dengan penuh ta’dzim menerima mereka dan mengucapkan terima kasih. Walau Gus Dur sendiri sudah tahu kalau dirinya akan jadi presiden. Bahkan Gus Dur sudah tahu masa kepemimpinannya yg cuma sebentar itu sebelum para kyai ini mengetahuinya.

Pertemuan ini dicium oleh wartawan, dan ramailah berita pertemuan di kala itu. Para kyai sepuh ini dijuluki oleh media sebagai Poros Langit, disesuaikan dengan kelompok yg mengusung Gus Dur jadi presiden yaitu Poros Tengah. Dan kebetulan pemimpin kelompok kyai sepuh ini adalah Kyai Faqih Langitan Tuban. Jadi paslah sebutan bagi mereka yaitu Poros Langit.

Dan kita semua tahu Gus Dur secara mengejutkan benar2 jadi presiden. Walaupun Gus Dur dan para kyai sepuh sama sekali tidak terkejut dengan hal itu. Karena para kyai sepuh dan Gus Dur sudah tahu sebelumnya.

Awal pemerintahan Gus Dur baik2 saja. Hubungan Gus Dur dengan Bu Mega tampak mesra. Mereka bergantian mengadakan sarapan pagi bersama. Kadang di istana presiden, kadang di istana wakil presiden. Tapi lama kelamaan para koruptor dan penggila jabatan mulai khawatir dengan ketegasan Gus Dur dalam memimpin negara ini. Mereka mulai tidak bebas korupsi dan menumpuk kekayaan pribadi karena ketatnya pengawasan Gus Dur di kala itu. Mereka mulai mendanai para mahasiswa untuk demo mengangkat isu-isu yg memojokkan Gus Dur. Mereka para koruptor menunggu momen yg tepat untuk menjatuhkan Gus Dur.

Gus Dur memang terkenal dengan gaya ngomongnya yg blak-blakan. Gus Dur berprinsip ‘padhakno pengucapmu karo karepe atimu’. Begitulah ketika Gus Dur dimintai pendapat oleh wartawan tentang Bu Mega yg sering diam saja, Gus Dur dengan enteng menjawab, “Dia itu bodoh”.

Jawaban Gus Dur itu didengar oleh Pramono Anung yg ketika itu kalau gak salah masih menjabat sebagai sekjen PDIP. Dan oleh Pramono, jawaban Gus Dur itu disampaikan kepada Ibu Mega. Ngambeklah Bu mega waktu itu. Bu Mega tidak mau menemui Gus Dur ketika sarapan pagi bersama di istana wakil presiden. Dan inilah kesempatan yg ditunggu oleh para koruptor dan penggila jabatan. Inilah celah yg bisa menurunkan Gus Dur dari kursi presiden.

Dan barulah para kyai sepuh dapat isyaroh lagi, kalau Gus Dur akan dilengserkan dari kursi presiden. Para kyai sepuh atau kyai poros langit ini sowan lagi kepada Kyai Rohimi, minta pendapat dan minta solusi gimana baiknya dan supaya Gus Dur masih bisa jadi presiden.

Kyai rohimi mengatakan kepada para kyai, “Gus Dur akan bisa tetap jadi presiden kalau mau minta maaf kepada Ibu Mega. Walaupun Gus Dur tidak ada niat merendahkan Ibu Mega”.

Biarpun Kyai Rohimi sudah tahu kalau jabatan Gus Dur cuma sebentar, tapi Kyai Rohimi tetap memberi peluang kepada para kyai. Kyai Rohimi berkeyakinan bahwa Allah jualah penentu akhir suatu kisah, isyaroh hanyalah perlambang.

Para kyai kembali menemui Gus Dur dan menyampaikan apa yg diperoleh dalam isyarohnya dan juga menyampaikan pesan Kyai Rohimi. Tapi Gus Dur tidak mu melakukannya. Bukan berarti Gus Dur tidak mau minta maaf karena malu atau gengsi. Tapi apa yg dialami Gus Dur kurang lebih persis seperti apa yg dialami oleh Sayyidina Ali. Ketika dalam peperangan, Sayyidina Ali mau membunuh orang kafir yg sudah terjatuh di atas tanah. Sayyidina Ali tiba2 mengurungkan niatnya ketika orang kafir itu meludahinya. Orang kafir itu heran melihat Sayyidina Ali yg tiba2 urung membunuhnya. Orang kafir ini pun menanyakan hal tersebut.

Sayyidina Ali menjawab, “Pertama aku berniat membunuhmu karena Allah. Tapi ketika kamu meludahiku, terbersit perasaan marah kepadamu. Maka aku urungkan niat membunuhmu karena ada niat selain Allah di hatiku”.

Gus Dur tidak mau minta maaf kalau niatnya karena ingin mempertahankan jabatan. Gus Dur tidak gila jabatan. Dan Gus Dur memang sudah tahu kalau masa kepemimpinannya cuma sebentar. Dan kita semua tahu Gus Dur akhirnya berhasil diturunkan dari kursi kepresidenan karena kasus yg dibuat2 yaitu kasus buloggate.

Paijo dan kawan-kawannya terdiam mendengar cerita Wali Paidi ini. Mereka merasa baru mendengar cerita Gus Dur dengan Kyai Rohimi, mereka sangat penasaran. “Apakah Kang Paidi pernah bertemu dengan Kyai Rohimi,” tanya Paijo penasaran.

“Tidak pernah,” jawab Wali Paidi santai dg menyedot rokoknya.

“Lalu sampeyan dapat cerita dari mana,” tanya Paijo lagi makin penasaran. Wali Paidi tidak menjawabnya. Dia hanya tersenyum dan menyeruput selepek kopi lalu ngeloyor pergi.

 

Bersambung…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Juli 2015 in Tasawuf

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: