RSS

Sholawat vs Istighfar

09 Agu

Kecil di mata Allah

Pagi-pagi Wakidi dan Saridin sudah ribut. Apa yang diributkan? Mereka berdebat tentang mana yg harus didahulukan, antara sholawat dan istighfar. Menurut Wakidi sholawatlah yg harus dikedepankan sebagai bentuk kecintaan kepada Kanjeng Nabi. Sebaliknya, Saridin ngotot bahwa istighfarlah yang harus diutamakan sebagai bentuk penghambaan.

Untuk memuaskan, mereka berdua mendatangi ustadz muda di kampung.

“Ya jelas istighfarlah,” jawab ustadz. Lalu ustadz muda ini langsung membacakan sebuah hadits :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هُمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar niscaya Allah akan menjadikan baginya kelapangan dari segala kegundahan yang menderanya, jalan keluar dari segala kesempitan yang dihadapinya dan Allah memberinya rizki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.”

Tuh, kan? Yang benar istighfar dulu kan? Persis seperti yang saya lihat di tipi-tipi,” kata Saridin makin semangat.

Tapi rupanya Wakidi tak mau menyerah. Dia pun mengajak Saridin untuk menemui Eyang yang dianggap memahami tasawuf.

Dawuhe guru sing ahli ma’rifat, niatono nyuwun pangapuro marang Gusti Allah nang njero atimu sing temen-temen. Tapi olehmu nyuwun pangapuro kuwi nyuwuno pangestu soko Kanjeng Nabi kelawan moco sholawat,” tutur Eyang. Jadi, secara lisan membaca sholawat tapi hati dijaga untuk terus beristighfar.

Eyang pun menjelaskan, betapa susahnya manusia itu bertawajjuh (menghadapkan muka) kepada Allah ketika beribadah. Mengapa demikian? Karena buanyak hal yg menyebabkan hati kita ini tertutup dari Allah. Di situlah ketidaksempurnaan kita. Sekhusyu’ apapun kita. Dalam satu kali sholat saja, lebih dari separo waktu hati kita tak bisa menghadap Gusti Allah. Itu kalau kita mau jujur dan merendahkan diri di hadapan Gusti Allah.

Karena itu sebagian besar para wali dan ulama sufi, selalu melibatkan Kanjeng Nabi ketika bertawajjuh. Dengan menggandeng Kanjeng Nabi, kita berharap Gusti Allah mau mengampuni ketidaksempurnaan ibadah kita lalu menurunkan rahmat-Nya sehingga apa-apa yang menjadi penghalang hati kita dihilangkan oleh Gusti Allah.

“Di situlah perlunya rabithah (bertautan hati). Para wali dan sufi ber-rabithah kepada Kanjeng Nabi. Para ulama ber-rabithah kepada para wali sampai kepada Kanjeng Nabi. Nah, kita orang awam yang bukan apa-apa ini, cantholno awakmu iku nang poro ulama, poro wali sampai ke Kanjeng Nabi,” jelas Eyang.

“Emangnya ga boleh ya Eyang kalau kita langsung menghadap Gusti Allah? Bukankah Allah itu maha segalanya,” Saridin pun ngeyel.

Yen kowe rumongso iso, silakan. Opo kowe wis siap diblejeti ketidaksempurnaanmu karo Gusti Allah? Dan itulah yg dilakukan poro wali. Mereka semua merasa hina di hadapan Gusti Allah hingga perlu ber-rabithah kepada Kanjeng Nabi,” jawab Eyang.

Sudahkah Anda memiliki guru untuk dicantoli?

Alfaqir ilaa rahmatillah

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Agustus 2016 in Tasawuf

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: