RSS

Bunga Cantik Yang Haram

05 Nov

Out of bunga-opiumThe Box 411 :
Bunga Cantik Yang Haram

…Pihak berwenang Hong Kong telah menyatakan empat dari orang-orang Cina tersebut sebagai orang-orang yang berbahaya karena mereka merupakan anggota masyarakat kriminal Cina yang dikenal sebagai Masyarakat Triad Pang Hijau yang sebelum tahun 1949 beroperasi di Cina Utara…

– Diambil dari buku “The Chinese Mafia” –
Ditulis oleh seorang pengacara Fenton Bresler yang melakukan investigasi ke berbagai negara selama 3 tahun khusus untuk mempersiapkan buku ini.

Pernyataan pihak kepolisian Hong Kong tersebut merupakan jawaban atas surat edaran rahasia yang dikirim dari markas besar Interpol di Paris pada tahun 1963. Dalam surat edaran itu disebutkan bahwa, Interpol sedang memonitor kedatangan sejumlah orang Tiongkok ke Eropa dan Amerika. Sekilas memang tak ada yang mencurigakan. Sebab, mereka dibekali dengan paspor serta dokumen keimigirasian lengkap. Apalagi, kegiatan mereka yang terlihat adalah untuk berdagang pakaian. Bahkan sebagian di antaranya, hanya singgah beberapa saat saja dan melanjutkan perjalanan ke sejumlah negara di Eropa dan Amerika.

Kecurigaan itu bermula dari penelusuran jejak atas daerah yang dikunjungi para pendatang tersebut. Interpol menemukan pola bahwa para pendatang Tiongkok itu hanya mengunjungi wilayah yang memiliki pelabuhan atau bandara besar saja. Temuan itu kemudian dipertajam dengan melakukan penelusuran catatan kriminal di negara asalnya. Walhasil, diperoleh data akurat bahwa setidaknya ada 85 orang dari para pendatang Tiongkok tersebut yang memiliki keterkaitan erat dengan triad. Pihak Interpol kemudian langsung melakukan monitoring ketat terhadap aktifitas mereka hingga akhirnya memperoleh kesimpulan. Bahwa kedatangan mereka bertujuan membangun kontak dengan sejumlah pihak untuk membuka jalur distribusi “barang haram” ke wilayah Eropa dan Amerika.

Apa yang terjadi dua dasawarsa kemudian sungguh sangat mencengangkan. Banyak petinggi polisi di sejumlah negara yang mengatakan bahwa masyarakat kriminal triad sebenarnya tidak pernah ada. Bahkan sejumlah petinggi interpol sendiri juga mengatakan hal yang sama. Padahal menurut Detektif Polisi yang dulu pernah menjabat sebagai Kepala Divisi Kepolisian Interpol Raymond Kendall, jelas-jelas menyatakan bahwa triad merupakan kumpulan penjahat, elemen-elemen kriminal yang bersatu.
Berdasarkan catatan, pada sekitar tahun 1970, jumlah kunjungan orang Tiongkok ke sejumlah negara di Eropa naik drastis. Bahkan terus meningkat dari tahun ke tahun. Komisi Narkoba PBB pada tahun 1979 merilis, bahwa jumlah heroin yang berhasil disita petugas rata-rata pertahun meningkat tajam dari 84 kg (1947-1951) menjadi 2337 kg (1977). Padahal, jumlah heroin yang disita tersebut diperkirakan hanya 10% dari total peredaran heroin di Eropa. Apakah kedatangan orang-orang Tiongkok tersebut ada korelasi dengan kenaikan peredaran heroin?

Perang Candu

Opium memiliki sejarah yang sangat panjang. Para ahli mengatakan bahwa opium telah berumur setua peradaban manusia itu sendiri. Penggunaan opium yang berasal dari bunga popi dan memiliki nama Latin Papaver Somniverum itu setidaknya telah tertulis dalam catatan Bangsa Sumeria pada 4000 SM. Tanaman ini dapat tumbuh dengan sangat baik di daerah lembab dan memiliki ketinggian di atas 2000 kaki.

Menurut catatan, awalnya bunga popi dibudidayakan di wilayah Timur Tengah. Karena kurang bagus kualitasnya, akhirnya tanaman itu dikembangkan di India dan Persia. Di kedua negara tersebut, opium dijadikan campuran hidangan makanan dan minuman sehari-hari. Dan pada awal abad ke-16, pedagang Portugis mulai memperkenalkan opium India ke Tiongkok. Namun pada akhirnya, India mengambil alih Portugis dan secara diam2 melakukan ekspor ke Tiongkok. Ekspor Opium ke Tiongkok meningkat drastis dari 15 ton (1730) menjadi 75 ton (1773).

Pada saat yang sama, ekspor teh Tiongkok, porselin, sutra dan rempah2 ke sejumlah negara Eropa juga naik drastis. Hal ini sangat menguras cadangan devisa negara2 di Eropa karena harus membayar impor barang dari Tiongkok dengan mata uang perak. Eropa dalam kondisi sangat tidak berdaya secara ekonomi menghadapi gempuran produk dari Tiongkok. Apalagi, di Eropa sedang terjadi revolusi industri di mana produk2 mereka membutuhkan pasar baru. Inggris mencoba untuk mengimbangi impor mereka dengan mengirim kapas dari negara jajahannya India. Ternyata gagal. Akhirnya Inggris meminta Tiongkok untuk membebaskan produk Eropa masuk ke wilayahnya. Permintaan ini disetujui. Dari sinilah Inggris mulai menjalankan taktiknya. Mereka membanjiri Tiongkok dengan opium. Taktik ini berjalan sempurna hingga akhirnya permintaan opium terus meningkat.

Dampak dari meluasnya penggunaan opium sangat terasa. Produktivitas masyarakatnya menurun, perang saudara, kegaduhan sosial merajalela. Bangsa Tiongkok terus melemah. Menyadari akan hal ini, akhirnya pada tahun 1729 Kaisar Ch’ing melarang penjualan opium. Aturan ini dipertegas kembali oleh Kaisar Daoguang pada tahun 1799. Alih2 menegakkan aturan, yang terjadi malah justru sebaliknya. Para pejabatnya semakin korup karena tergiur dengan suap untuk memasukkan opium. Apalagi, peredaran opium dibantu oleh triad. Komunitas triad sebenarnya berawal dari sisa2 orang dari Dinasti Han. Awalnya, triad beranggotakan orang2 yang sangat patriotik karena bertujuan menggulingkan Kekaisaran Manchu-Dinasti Qing dan merestorasi Dinasti Han. Mereka membantu peredaran opium dengan tujuan untuk menggulingkan kaisar. Tapi pada perkembangannya, mereka berubah menjadi kelompok kriminal karena dimanjakan bisnis opium yang labanya sangat menggiurkan.

Pada saat bangsa Tiongkok sedang mengalami kemerosotan itulah, Inggris mulai mengerahkan armada perangnya. Dan, pasukan Dinasti Qing tak mampu menghalau gempuran hingga akirnya satu persatu wilayah Tiongkok dikuasai Inggris. Kondisi ini memicu terjadinya Perang Candu I (1839-1842). Dalam kondisi tidak berdaya, Kaisar Qing dipaksa menandatangani Kesepakatan Damai di Nanking pada 29 Agustus 1842. Isinya, Inggris bersedia menarik mundur seluruh pasukannya asalkan :
1. Tiongkok harus membuka 5 pelabuhan baru untuk pedagang Inggris
2. Menjadikan Inggris sebagai mitra dagang utama
3. Membebaskan tawanan perang Inggris
4. Membayar biaya ganti rugi perang senilai 21 juta keping perak
5. Menyerahkan Pulau Hong Kong ke Inggris

Kesepakatan Damai itu rupanya tidak membuat Inggris puas. Pada tahun2 berikutnya, Inggris mendesak Kaisar Qing untuk membuka semua pelabuhan bagi pedagang asing, menghapus pajak untuk komoditas impor dari Inggris serta melegalkan perdagangan opium. Puncaknya, Kaisar Qing menangkap Kapal Arrow atas tuduhan penyelundupan dan pembajakan pada 8 Oktober 1856. Hal ini memicu terjadinya Perang Candu II. Inggris dibantu Perancis (misinya menuntut Kaisar Qing yang telah membunuh misionaris August Chapdelaine) kembali menggempur beberapa wilayah di Tiongkok. Dan pada bulan Oktober 1860, pasukan Inggris dan Perancis membakar istana kaisar dan menjarah benda-benda berharga di dalamnya. Akhirnya Kaisar Qing terpaksa harus kembali menandatangani Traktat Tianjin. Salah satu poin dalam perjanjian itu, adalah legalisasi perdagangan opium. Inggris bahkan membagikan beberapa wilayah Tiongkok. Salah satunya adalah wilayah seluas 400 ribu km2 di Tiongkok Timur kepada Rusia. Kondisi ini memicu penanaman besar2an opium di sebagian besar wilayah Tiongkok.

Perang Candu adalah aib besar bagi bangsa Tiongkok. Bangsa yang termasuk dalam deretan peradaban tertua di dunia ini dipaksa untuk mengikuti kehendak dan ambisi Eropa (khususnya Inggris). Padahal sebelumnya, Tiongkok sudah berhasil memporakporandakan perekonomian bangsa Eropa. Tiongkok juga dikenal sebagai bangsa yang memiliki armada perang yang solid. Tetapi ketangguhan armada perang, peradaban yang tinggi, jumlah rakyat yang besar, semua bagaikan buih di atas lautan saat mereka sudah kecanduan opium.

 

Distribusi , Modus dan Triad

Pada tahun 1806, seorang ahli farmasi Jerman, Friedrich Wilhelm, menemukan zat penyebab mabuk dan tak sadar diri yang terkandung di dalam opium. Zat ini dia namakan morphium yang diambil dari bahasa Yunani. Penelitian terhadap opium terus dilakukan sampai akhirnya pada tahun 1874 seorang ahli kimia dari London bernama Alder Wright berhasil menemukan turunan dari morfin yang diberi nama diacetylmorphine atau biasa disebut heroin.

Heroin dan segala jenis turunannya ini memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dari opium. The House of Ophium di Thailand mencatat, harga jual heroin bisa 100 ribu kali lipat dari harga opium. Andai saja harga 1 kg opium Rp 1.000, maka nilai jual 1 kg heroin bisa mencapai Rp 100 juta. Sanggupkah Anda untuk tidak tergiur menjadi bagian dari bisnis ini? Satu-satunya alasan yang dapat menahan kita hanyalah keyakinan bahwa opium adalah BARANG HARAM. Dan memperjualbelikan barang haram pun hukumnya HARAM.

Begitu pula yang dialami triad. Komunitas triad berawal dari 128 biksu Budha yang mendirikan biara pada tahun 1674. Awalnya, kelompok militan ini bertujuan menggulingkan Kaisar Ch’ing dan merestorasi Dinasti Han. Namun menurut legenda, biara ini diserbu pasukan kerajaan hingga hanya tersisa 5 orang saja. Mereka kemudian bersumpah mendirikan Masyarakat Langit di Bumi yang mereka sebut sebagai Triad. Akibat tekanan dan kejaran dari pasukan kerajaan, orang2 triad akhirnya melibatkan diri dalam jaringan penyelundupan opium. Keuntungan yang melimpah memantik nafsu keserakahan karena mereka terlanjur bergelimang kemewahan. Akhirnya Triad berubah menjadi jaringan kriminal yang salah satu usahanya adalah bisnis opium.

Pada saat dunia mulai menyadari dampak negatif penyalahgunaan opium dan melakukan kontrol ketat terhadap peredarannya, mereka yang terlanjur memiliki jaringan tidak mau tunduk. Termasuk Triad. Sebab ini menyangkut aset dan nilai transaksi yang jumlahnya sangat fantastis. Bahkan majalah Fortune pernah menyebut narkoba sebagai komoditas yang nilai transaksinya tertinggi di bawah minyak. Di Indonesia sendiri, BNN pernah merilis bahwa ada 72 jaringan internasional yang beroperasi di dalam negeri. Dan, nilai transaksinya rata2 mencapai Rp 1 T per tahun untuk setiap jaringan. Sehingga totalnya diperkirakan mencapai Rp 72 T. Bahkan ada jaringan yang sampai tembus Rp 3,6 T.

Anda bisa bayangkan! APBD DKI Jakarta tahun 2017 tercatat sekitar Rp 68 T. Sedangkan APBD Jatim untuk tahun yang sama hanya sekitar Rp 27 T. Artinya, seandainya saja ke-72 jaringan narkoba itu bersatu untuk ‘membeli’ Jakarta, bukanlah hal yang mustahil. Apalagi Jatim. Separuh saja dari seluruh jaringan internasional yang beroperasi di dalam negeri itu bersatu, maka hitam putihnya Jatim akan bisa diatur oleh mereka. Lagi-lagi pertanyaannya adalah, sanggupkah pejabat, tokoh masyarakat, politisi atau bahkan warga biasa menolak tawaran bisnis yang sangat menggiurkan itu?

Mengapa jaringan narkoba di Indonesia begitu banyak? Tahukah Anda, siapa negara penghasil opium terbesar di dunia? Anda mungkin tidak akan percaya karena jawabannya adalah Afganistan. Menurut catatan The House of Opium, 70% suplai opium dunia berasal dari negara ini. Afganistan memiliki banyak pegunungan dengan ketinggian sekitar 800 – 24.000 kaki. Padahal, opium akan tumbuh sempurna di daerah pegunungan dengan ketinggian minimal 2.000 kaki dengan iklim subtropis. Urutan berikutnya adalah apa yang dikenal dalam dunia jaringan narkoba sebagai “Segitiga Emas”. Yakni Burma (Myanmar), Laos dan Thailand. Kawasan Segitiga Emas untuk budidaya opium ini diperkirakan mencapai 950.000 km2. Waw…??? Dulunya, kawasan ini digunakan Inggris untuk mensuplasi opium ke Tiongkok saat terjadinya Perang Candu. Produksi yang melimpah dari keduanya, tentu membutuhkan penetrasi pasar yang luas. Maka tidak heran jika Indonesia masuk dalam bidikan mereka, dengan menjadikan Vietnam dan Malaysia sebagai tempat transit.

Pendistribusian narkoba menggunakan modus yang sangat rapi, licik, sadis dan unik. Fenton Bresler dalam bukunya The Chinese Mafia mengatakan bahwa jaringan narkoba menjadikan bayi sebagai kurirnya. Bayi2 itu diculik (atau kalau perlu dibeli dengan kedok anak asuh), lalu dibunuh dan dikeluarkan seluruh organ dalamnya. Tubuh bayi itu kemudian diisi narkoba yang sudah dibungkus rapi dan dibawa seorang wanita layaknya sang ibu yang sedang menggendong anaknya.

Anggota jaringan internasional sangat aktif mencari orang yang akan dijadikan kurir. Fenton menemukan modus, seorang anggota triad menawarkan pekerjaan kepada seorang pemuda yang baru dikenalnya di tempat umum. Pemuda itu dijanjikan pekerjaan dengan bayaran tinggi jika dia bersedia menghubungi anggota triad itu. Ketika dihubungi beberapa waktu kemudian, anggota triad itu menyuruh pemuda tadi untuk pergi ke sebuah hotel. Pemuda itu diperintah agar langsung meminta kunci kamar yang ditunjuk ke respsionis dan langsung menuju ke kamar. Ketika dibuka kamarnya, tak ada siapa2. Hanya ada bungkusan yang diletakkan di atas kasur. Di atas bungkusan itu terdapat amplop. Saat amplop dibuka, betapa kagetnya dia bahwa ternyata isinya adalah foto keluarga pemuda itu dan secarik kertas berisikan perintah untuk mengantar barang tersebut ke suatu tempat. Jika pemuda itu mundur atau tidak menjalankan perintah, maka keluarga yang ada di foto itu akan dibunuh semua.

Modus lainnya adalah dengan mengorbankan kurir. Anggota Triad mencari kurir untuk mengirimkan barang. Pada saat yang bersamaan, anggota Triad ini juga sudah menyiapkan kurir kedua dengan jumlah barang yang jauh berlipat2. Anggota Triad ini sebelumnya sudah menjalin hubungan baik dengan aparat. Dia mengorbankan kurir pertama dengan berpura-pura membocorkan informasi ke aparat. Tujuannya untuk meloloskan kurir kedua. Saat ditangkap, jangan harap seorang kurir memberikan informasi tentang jaringannya. Sebab, besar kemungkinan mereka memang benar2 tidak mengenalinya.

Di antara banyak modus itu, Fenton dalam investigasinya menyimpulkan bahwa yang paling mengerikan adalah pendistribusian barang secara besar2an yang biasanya dilakukan setahun sekali. Jumlah barang yang didistribusikan bisa mencapai ratusan ribu ton dengan nilai ribuan trilyun. Untuk mengamankan ekspedisi maut ini, anggota Triad seringkali menciptakan kegaduhan2 lokal di setiap negara yang dilaluinya. Isu apapun bisa digunakan untuk menciptakan kegaduhan berskala besar di negara tersebut sehingga bisa mengalihkan perhatian aparat dan publik. Dan dalam sejarahnya, ekspedisi ini belum pernah gagal karena acapkali melibatkan perwira, pejabat, serta politisi korup di setiap negara.

Saya teringat pesan “mulia” dari seorang Don Corleone dalam film Godfather. Sebagai mafia yang paling disegani, Don Corleone mempersilakan koleganya yang ingin mendulang uang lewat bisnis prostitusi, perjudian ataupun perdagangan senjata ilegal. Tapi dia wanti-wanti agar tidak mendekati bisnis narkoba. Tentu, alasannya bukan karena itu barang haram. Tapi lebih pada keuntungan yang berlipat2 sehingga bisa menumbuhkan keserakahan yang ujung2nya bisa menyebabkan pertikaian.

Kita semua tidak ingin bangsa ini tercerai berai. Kita tidak akan rela jika negara ini dipaksa harus bertekuk lutut pada negara lain yang ingin merampok kekayaan alam kita yang sangat luar biasa ini. Kita tidak ingin seperti Tiongkok yang negaranya dijadikan bancak’an oleh negara lain dengan sangat tidak terhormat. Karena itu, seluruh elemen kebaikan seyogyanya tidak mengabaikan kemungkinan2 terjadinya perselingkuhan antara jaringan narkoba dengan pihak2 yang menginginkan kehancuran negara ini. Di Timur Tengah, kelompok militan radikal berselingkuh dengan barat untuk menghancurkan sebuah negara. Di Tiongkok, anggota triad yang sekarang jaringannya sudah mendunia itu juga bersekongkol dengan Inggris.

Di Indonesia, semuanya ada. Kelompok militan radikal, jaringan narkoba, kaki tangan barat dan Eropa, semuanya sama2 ingin menghancurkan negara ini untuk tujuan dan kepentingan masing2. Karena itu sekali lagi, butuh energi ekstra untuk melindungi NKRI. Dengan ikhtiar di semua lini, di bawah bimbingan ulama, dengan keyakinan laa hawla wa laa quwwata illa billah, insya Allah perjuangan ini tidak akan sia2. Mari…..pertahankan NKRI demi tegaknya ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang bisa memberikan kemaslahatan kepada seluruh umat manusia sebagai bentuk perwujudan Islam rahmatan lil ‘alamin….

 

Warga nahdliyin pinggiran
@guslege

Nb : Entah mengapa tiba-tiba saya ingin membuat coretan kecil tentang opium, perang candu, serta pernik-pernik di dalamnya. Tentu, sebatas yang saya ketahui. Karena itu jika ada ketidaksempurnaan, mohon dimaafkan. Apakah tulisan ini terkait dengan kondisi sosial politik nasional kekinian? Entahlah. Silakan Anda simpulkan sendiri…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 November 2016 in aktivis, intelejen, Islam, NU, Politik

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: